KABAR MADURA | Sapi sonok merupakan bagian dari peninggalan budaya yang terus dilestarikan. Salah satu yang komunitas yang konsisten menjaga dan melestarikan budaya tersebut adalah Paguyuban Sapi Sonok Pantura, yang didirikan sejak 2000. Kini anggota komunitas itu sudah berasal dari empat kabupaten di Madura.
PAMEKASAN, KHOYRUL UMAM SYARIF
Saat ini komunitas Paguyuban Sapi Sonok Pantura dinahkodai oleh H. Zainuddin. Ia merupakan penerus dari H. Suhaimi. H. Zainuddin bercerita, sapi sonok sudah ada sejak 1940. Kemudian, pada 1963, sapi sonok mendapat pengakuan dari pemerintah sebagai bagian dari budaya yang harus dilestarikan dan mulai diadakan kontes.
“Saat ini, untuk Paguyuban Sapi Sonok Pantura ini sudah mencakup se-Madura, jadi di setiap kabupaten itu ada cabangnya” papar pria asal Desa Waru Barat, Kecamatan Waru itu.
Menurut H. Zainuddin, pelestarian bibit unggul sapi Madura menjadi spirit utama dibentuknya paguyuban tersebut. Selain itu, agar para generasi muda bisa mengetahui tentang budaya yang telah diwariskan oleh pendahulunya.
“Bahkan tidak sebatas itu, adanya kontes sapi sonok sebagai ajang silaturahmi antar penggemar sapi sonok dan menjaga warisan budaya Madura,” ujarnya, Rabu (8/1/2025).
Kemudian, dari sisi bisnis, sapi sonok memiliki nilai yang cukup fantastis, bahkan pedet sapi sonok bisa tembus seharga Rp100 juta per ekor, apabila struktur tubuhnya sangat bagus untuk selanjutkan diikutkan kontes. Kata H. Zainuddin, minimal harga pedet atau anak sapi sonok berkisar Rp20 juta, berbeda dengan harga pedet sapi biasa yang tidak lebih dari Rp10 juta.
Adapun untuk harga sapi sonok yang sudah siap ikut kontes harganya bisa mencapai Rp250 juta per ekor, bahkan bisa di atasnya. Menurutnya, dengan pelestarian sapi sonok ini sangat menguntungkan.
“Rata-rata untuk pembiayaan yang dihabiskan setiap bulan untuk satu pasang sapi sonok antara Rp1 juta sampai Rp1,5 juta,” ungkapnya.
Lalu, H. Zainuddin menyebut, setiap tahun bagi sapi yang sudah berusia di atas tiga tahun ke atas mesti bisa dibuntingkan secara alami dengan memilih sapi jantan khusus. Sehingga, apabila dikalkulasi, semisal memiliki satu pasang sapi, maka akan melahirkan dua pedet.
Sekadar diketahui, dalam kontes sapi sonok itu beradu kecantikan sepasang sapi betina dengan menggunakan pangonong. Kemudian, pasangan sapi sonok itu berjalan dengan langkah gemulai mengikuti irama yang diarahkan oleh pawang yang berpengalaman. (zul)





