KABAR MADUR | Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI dan AKB) di Sumenep sejauh ini sudah mencaapi delapan orang. Satu orang AKI dan AKB sebanyak tujuh orang.
Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Samioeddin menyampaikan, masih tingginya AKI dan AKB perlu adanya penaganan khusus.
“Semakin sedikit AKI dan AKB berarti OPD teknis sukses dalam menjalankan programnya,” katanya, Senin (10/6/2024).
Menurutnya, setidaknya setiap tahun
AKI dan AKB mengalami penurunana, hingga tidak terjadi lagi. Untuk mencapai itu, tentu perlu diupayakan, penanganan khusus dengan memaksimalkan program yang sudah ada. Termasuk melakukan pembinaan pada Puskesmas masing-masing.
“Semua Puskesmas juga sering turun ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat di Sumenep,” ucap dia.
Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Sumenep, Desy Febryana membenarkan, bahwa AKI dan AKB masih ada, tercatat mencapai 8 orang.
“Angka itu minim, semoga kedepannya tidak ada lagi AKI dan AKB,” tururnya.
Dijelaskan, penyebab AKI dan AKB yakni, untuk AKI dikeranakan rata-rata karena Intrauterine Fetal Death (IUFD) atau meninggal di dalam kandungan. Untuk AKB karena eklamsia, perdarahan. “Jadi hal itu tidak diduga sebelumnya, artinya langsang ada,” katanya.
Dalam mengantsipasi itu, Dinkes P2KB Sumenep berusaha meminimalisir, salah satunya melakukan kegiatan Audit Maternal Perinatal dan Surveilance Responce langsung turun ke Puskesmas dan dilakukan pengkajian kasus bersama dokter spesialis kandungan.
“Juga dokter spesialis anak termasuk koordinasi dengan organisasi profesi seperi IBI,IDI dan PPNI,” tambahnya.
Di tahun 2023, AKI mencapai 14 kasus dan AKB mencapai 28 orang. Sementara di tahun 2022, AKI sebanyak 12 orang, sedangkan AKB mencapai 30. Lalu, di tahun 2021, AKI tersapat 17 dan AKB sebanyak 30.
Pasalnya, terjadinya kematian ibu di Sumenep, juga dipengaruhi oleh usian. Sebab, yang meninggal dunia berada di usia di atas 35 tahun.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Fathor Rahman





