KABAR MADURA | Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf memberikan sinyal berbeda saat ditanya mengenai kemungkinan kembali mencalonkan diri dalam Muktamar PBNU ke-35 pada Agustus mendatang.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri kegiatan halalbihalal di Pesantren Al Kholiliyah Annuroniah, Kelurahan Demangan, Bangkalan, Senin (4/5/2026).
Alih-alih memberikan jawaban tegas, Gus Yahya justru menekankan pentingnya tanggung jawab moral atas janji-janji yang pernah disampaikan kepada jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
“Saya ingin menyelesaikan janji,” ujarnya.
Gus Yahya menjelaskan, pencalonannya pada periode sebelumnya dibangun di atas komitmen kepada cabang-cabang NU. Sebab itu, selama masih ada janji yang belum terpenuhi, hal tersebut dianggap sebagai utang yang harus diselesaikan.
“Saya itu cuma ingin bayar utang. Utang janji kepada cabang-cabang. Kalau masih ada janji yang belum terpenuhi, berarti saya masih punya utang,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa keputusan terkait pencalonan kembali tidak semata-mata didorong oleh keinginan mempertahankan posisi, melainkan lebih pada komitmen untuk menuntaskan mandat yang telah diberikan oleh struktur organisasi di tingkat bawah.
Di tengah dinamika internal NU, sikap Gus Yahya ini dipandang sebagai penegasan bahwa kepemimpinan dalam tubuh NU tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga sarat dengan tanggung jawab moral terhadap konstituen organisasi.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi terkait kepastian pencalonan kembali. Namun, pernyataan itu membuka ruang tafsir bahwa arah langkah organisasi ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana janji-janji kepemimpinan saat ini dapat dituntaskan.
“Ya itu saja statemennya ya,” ungkapnya. (fik/zul)





