Keturunan Buju’ Abdul Akhir Arongan, Menjadi Elit PCNU Sumenep

Opini85 views

Nasab yang Menemukan Maknanya dalam Khidmah

Oleh: Abdul Hadi

Dalam tradisi masyarakat Madura, makam para leluhur bukan sekadar tempat berziarah. Ia adalah ruang ingatan kolektif yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Dari sanalah nilai-nilai diwariskan, bukan hanya melalui silsilah keluarga, melainkan melalui keteladanan hidup, keilmuan, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab itu, nama seorang leluhur tidak menjadi besar hanya karena banyaknya keturunan, melainkan karena nilai yang terus hidup dalam diri para penerusnya.

Dalam konteks itulah, keberadaan sejumlah pengurus strategis PCNU Sumenep Masa Khidmat 2026-2031 yang menurut silsilah keluarga berasal dari garis keturunan Buju’ Abdul Akhir Arongan, menjadi menarik untuk direnungkan. Hal yang patut dicatat bukan semata-mata hubungan genealogis mereka, melainkan—kepemimpinan itu menjadi ruang pembuktian bahwa kemuliaan nasab—hanya akan bermakna apabila diterjemahkan menjadi kemuliaan akhlak dan pengabdian.

Islam sejak awal telah meletakkan ukuran kemuliaan manusia bukan pada garis keturunan. Al-Qur’an menegaskan:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat ini menjadi fondasi etika sosial Islam. Nasab adalah anugerah yang tidak dipilih oleh manusia, sedangkan ketakwaan adalah ikhtiar yang harus diperjuangkan sepanjang hayat. Karena itu, kebanggaan terhadap leluhur tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah, tetapi harus melahirkan tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik keluarga melalui karya dan kemanfaatan.

Nabi Muhammad Saw juga mengingatkan:
“Barang siapa yang diperlambat oleh amalnya, maka nasabnya tidak akan mampu mempercepat kedudukannya.” (HR. Muslim).

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Di hadapan Allah, tidak ada keistimewaan yang lahir hanya karena seseorang berasal dari keluarga terpandang. Yang meninggikan derajat seseorang adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan pengabdian yang tulus.

Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, nilai tersebut telah menjadi ruh organisasi sejak didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kepemimpinan di lingkungan NU bukanlah warisan yang otomatis berpindah berdasarkan hubungan darah, melainkan amanah yang lahir dari kepercayaan, kapasitas, integritas, dan penerimaan jamaah. Karena itu, ketika terdapat beberapa tokoh yang memiliki hubungan genealogis yang sama kemudian dipercaya mengemban amanah di PCNU Sumenep, hal tersebut lebih tepat dipahami sebagai panggilan untuk memperbesar manfaat, bukan memperbesar kebanggaan.

Baca Juga:  Pekerja Tewas di Proyek Bank Jatim Sumenep, Polisi Sebut Murni Kecelakaan Kerja

Pada kepengurusan saat ini, KH. Ahmad Washil Hasyim, Rais Syuriyah PCNU Sumenep. Beliau dikenal sebagai ulama yang teduh, bijaksana, serta mampu mengayomi seluruh lapisan warga Nahdliyin. Kepemimpinannya berakar pada tradisi keilmuan pesantren yang kokoh, dengan visi membumikan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui pendekatan yang santun, moderat, dan penuh hikmah. Sosoknya dikenal teduh dan mengayomi, dengan perhatian besar terhadap penguatan tradisi keilmuan pesantren.

Tokoh kedua adalah KH. Md. Widadi Rahim, Ketua PCNU Sumenep. Sebagai figur muda, beliau menghadirkan semangat baru dalam menggerakkan organisasi. Enerjik, komunikatif, dan piawai membangun konsolidasi menjadi ciri kepemimpinannya. Di bawah komandonya, PCNU Sumenep diarahkan menjadi organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Di sisi lain, KH. Md. Widadi Rahim memimpin roda organisasi sebagai Ketua Tanfidziyah dengan semangat konsolidasi dan penguatan kelembagaan. Keduanya merepresentasikan keseimbangan antara otoritas keilmuan dan dinamika manajerial yang selama ini menjadi karakter khas Nahdlatul Ulama.

Figur berikutnya adalah KH. Muhammad Erfan Omar, Wakil Katib Syuriyah PCNU Sumenep. Beliau dikenal sebagai ahli kitab kuning dan mendalami ilmu fikih. Keramahan, kesederhanaan, serta keluasan wawasan keislamannya menjadikan beliau salah satu rujukan dalam berbagai persoalan hukum Islam. Keilmuan yang dimilikinya merupakan modal penting dalam menjaga marwah Syuriyah sebagai penjaga tradisi keilmuan NU. Di jajaran Syuriyah, KH. Muhammad Erfan Omar dikenal sebagai pengkaji kitab kuning dan pendalaman fikih. Keilmuannya menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual pesantren.

Generasi muda juga tampil melalui Ra Ahmad Ulul Azmi (Ra Amm) pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Sumenep. Sosok yang mudah bergaul, penuh semangat, dan aktif mengembangkan dunia pesantren ini menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan NU berjalan dengan baik. Kehadirannya menjadi harapan bagi penguatan jaringan pesantren sebagai basis utama perjuangan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  Afirmasi Kedokteran dengan UTM Jadi Strategi Pemkab Sumenep Penuhi Kebutuhan Dokter Kepulauan

Ra Amm yang aktif di Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Sumenep, memperlihatkan bahwa estafet pengabdian kepada pesantren terus berlangsung.

Namun sesungguhnya, ukuran keberhasilan mereka bukanlah jabatan yang kini disandang. Jabatan hanyalah ruang pengabdian yang bersifat sementara. Yang akan dikenang masyarakat adalah apakah selama memegang amanah mereka mampu memperkuat ukhuwah, memperluas kemanfaatan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabrani).

Hadis ini merupakan kompas moral bagi setiap pemimpin. Kepemimpinan bukanlah tentang kedudukan, melainkan tentang manfaat. Seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa banyak orang yang dapat ia angkat. Tidak diukur dari seberapa besar kewibawaannya, tetapi dari seberapa luas kebermanfaatannya.

Dalam masyarakat pesantren, seorang keturunan ulama sesungguhnya memikul beban moral yang lebih berat. Ia dituntut menjaga nama baik leluhurnya melalui kesederhanaan, keteladanan, dan keikhlasan dalam berkhidmat. Semakin besar nama keluarga yang diwarisi, semakin besar pula tanggung jawab untuk membuktikan bahwa warisan itu hidup dalam perilaku sehari-hari.

Keberadaan para tokoh yang berasal dari garis keturunan Buju’ Abdul Akhir Arongan hendaknya dibaca sebagai pengingat bahwa sejarah tidak diwariskan untuk dibanggakan, melainkan untuk dilanjutkan. Warisan yang paling berharga bukanlah silsilah, melainkan ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan manfaat yang terus dirasakan masyarakat.

Pada akhirnya, nasab hanyalah titik awal sebuah perjalanan. Yang menentukan kemuliaan seseorang bukanlah dari keluarga mana ia berasal, melainkan jejak apa yang ia tinggalkan. Sebab sejarah selalu mengingat mereka yang mengabdikan hidupnya untuk umat, bukan sekadar mereka yang lahir dari keluarga besar.

Ganding, 19 Juli 2026

IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *