KABAR MADURA | Malam Lailatul Qadar merupakan malam penuh keistimewaan. Sebab di dalamnya terdapat segala macam keberkahan dari Allah SWT.
Dalam menyambut malam Lailatul Qadar, di beberapa daerah terdapat kebiasaan khusus yang dilakukan oleh seorang muslim, termasuk di Madura.
Memasuki malam ke 21, masyarakat Madura biasanya melakuan tradisi ter-ater atau arebbe ke masjid atau musala yang biasa digunakan untuk salat tarawih.
Dalam tradisi yang disebut salekoran itu, sejumlah makanan tradisional dihidangkan untuk para jamaah masjid atau musala.
Berikut beberapa jajanan tradisional yang ada di tradisi salekoran:
- Kue serabi
Kue yang berbahan dasar dari tepung beras dan parutan kelapa itu menjadi primadona dalam tradisi ter-ater salekoran di Madura. Sebab kue tersebut menjadi bahan sedekah ke jamaah salat tarawih di suatu masjid atau musala.
- Tumpengan
Selain kue serabi, juga ada tumpengan. Tumpengan ini biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Madura. Dalam realisasinya, bagi masyarakat Pulau Garam, tumpengan tidak hanya sebagai suatu tradisi saja, melainkan juga sebagai ajang memperkuat persaudaraan antar sesama.
- Nagasari
Kue tradisional ini memang tidak sepopuler seperti kue serabi saat bulan Ramadan. Namun, nagasari ini juga menjadi alternatif kue untuk disedekahkan saat tradisi salekoran bulan Ramadan.
- Apem selong
Kue apem ini biasanya mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional. Di beberapa tempat daerah di Madura, menjadikan kue apem selong sebagai bahan untuk hantaran di tradisi ter-ater saat bulan Ramadan.
Sejatinya, kue hantaran yang biasa disedekahkan saat bulan Ramadan tidak hanya mencakup empat kue di atas. Masing-masing orang memiliki kecendurangan tersendiri dalam memilih kue atau makanan yang akan disedekahkan. Namun pada umumnya, hantaran yang disedekahkan berupa makanan ringan atau jajanan tradisional. (nur)





