Spiritualitas Asta Helix UIN Madura Berakar pada Taneyan Lanjhang

Pendidikan93 views

KABAR MADURA | Spiritualitas tidak cukup dipahami sebagai praktik ritual individual, melainkan sebagai kesadaran hidup yang menata relasi manusia dengan Tuhan, sesama, alam, ilmu pengetahuan, dan sejarah. Pandangan inilah yang menjadi dasar pengembangan spiritualitas Asta Helix di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura melalui paradigma Taneyan Lanjhang, sebuah kearifan lokal Madura yang sarat nilai filosofis.

Rektor UIN Madura Dr. Saiful Hadi menegaskan, di tengah tantangan globalisasi, fragmentasi sosial, dan krisis makna yang melanda masyarakat modern, perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada fungsi akademik semata.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang pembentukan kebijaksanaan hidup. Ilmu pengetahuan perlu ditopang oleh kesadaran etis dan spiritual agar tidak kehilangan arah kemanusiaannya,” ujar Saiful Hadi, Jumat (16/1/2026).

Dia menjelaskan, konsep Asta Helix yang merepresentasikan 8 pilar sinergi, akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, budaya, teknologi, dan spiritualitas, di lingkungan UIN Madura tidak dimaknai sebatas model kolaborasi fungsional. Lebih dari itu, Asta Helix diposisikan sebagai jalan etis dan spiritual dalam membangun peradaban.

“Spiritualitas di UIN Madura bukan ornamen simbolik, tetapi menjadi poros yang menjiwai seluruh heliks. Ia menjadi sumber orientasi nilai dan tujuan,” katanya.

Menurut Saiful Hadi, paradigma Taneyan Lanjhang memberikan landasan filosofis yang kuat bagi pengembangan spiritualitas Asta Helix. Taneyan Lanjhang, yang secara harfiah berarti halaman panjang atau ruang hidup bersama, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Madura tentang kebersamaan, keterbukaan, dan tanggung jawab moral.

Taneyan Lanjhang mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk relasional. Eksistensi manusia menemukan maknanya dalam keterhubungan dengan keluarga, komunitas, tradisi, dan tentu saja dengan Tuhan,” jelasnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, nilai tersebut diinternalisasikan UIN Madura sebagai penolakan terhadap individualisme ekstrem. Kampus, kata Saiful Hadi, harus menjadi ruang hidup bersama yang menumbuhkan solidaritas, etika, dan martabat kemanusiaan.

Dari sisi epistemologis, dia menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah bebas nilai. Taneyan Lanjhang mengajarkan bahwa setiap aktivitas hidup selalu berada dalam bingkai nilai agama dan norma sosial.

“Ilmu tanpa hikmah bisa melahirkan kecerdasan yang kering makna. Karena itu, spiritualitas harus menjadi fondasi dalam proses akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.

Sementara secara aksiologis, spiritualitas Asta Helix diarahkan pada kemaslahatan bersama. Seluruh elemen heliks bergerak dalam satu orientasi moral untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman, berilmu, dan beradab.

Baca Juga:  Strategi Menang Hibah, UIN Madura Gelar Workshop Proposal MoRA The Air Funds 2026

“Spiritualitas bukan penghambat kemajuan. Justru ia penuntun arah perubahan. Kemajuan tanpa spiritualitas berisiko melahirkan ketimpangan, sedangkan spiritualitas tanpa kemajuan bisa terjebak romantisme masa lalu,” tambahnya.

Saiful Hadi juga menilai paradigma Taneyan Lanjhang relevan bagi masyarakat Indonesia yang plural. Kearifan lokal Madura, menurutnya, tidak bertentangan dengan modernitas, tetapi justru dapat menjadi fondasi etis bagi pembangunan nasional.

“Ini menunjukkan bahwa nilai lokal mampu berkontribusi pada diskursus nasional tentang pendidikan, pembangunan, dan kebudayaan tanpa kehilangan identitas religius,” ujarnya.

Lebih jauh, dia melihat Spiritualitas Asta Helix UIN Madura sebagai upaya membangun kesadaran kolektif yang berkelanjutan. Di saat masyarakat modern cenderung membangun solidaritas berbasis kepentingan sesaat, Taneyan Lanjhang menawarkan solidaritas yang bertumpu pada nilai dan tanggung jawab moral.

“Kesadaran semacam ini sangat dibutuhkan Indonesia di tengah tantangan disintegrasi sosial, polarisasi identitas, dan krisis kepercayaan publik,” imbuhnya.

Menurutnya, spiritualitas Asta Helix dalam paradigma Taneyan Lanjhang bukan hanya milik UIN Madura atau masyarakat Madura, melainkan tawaran filosofis bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kembali pendidikan, pembangunan, dan kehidupan sosial sebagai proses pemanusiaan yang utuh. (nur/zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *