Tidak Ideal, Satu Penyuluh Perikanan di Pamekasan Kaver 12 Desa

News67 views

KABAR MADURA | Penyuluh perikanan di Pamekasan semakin berkurang. Awalnya, ketersediaan penyuluh memang sudah terbilang minim, yakni hanya 16 orang. Sementara tahun ini, hanya terdapat 14 penyuluh. Kondisi itu mengakibatkan proses penyuluhan kurang maksimal.

Kepala Dinas Perikanan  Pamekasan Abdul Fata mengatakan, berkurangnya sumber daya manusia (SDM) penyuluh itu lantaran dua penyuluh diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di organisasi perangkat daerah (OPD) lain.

“Tahun ini bukan bertambah, tapi justru berkurang. Yang awalnya memang sudah minim, yakni ada 16 sekarang malah jadi 14,” ungkap Fata kepada Kabar Madura, Rabu (16/6/2024).

Imbas dari pengurangan SDM itu, mengakibatkan setiap penyuluh memiliki wilayah tugas tambahan. Bahkan, satu penyuluh ada yang bertanggungjawab di 12 desa dalam satu kecamatan. Padahal, idealnya, satu desa terdiri dari satu penyuluh.

Hal itu tentu mengakibatkan penyuluh harus berpikir keras lagi untuk tetap melakukan penyuluhan secara optimal di kawasan wilayah tugasnya. Dikatakan Fata, pihaknya telah melakukan pengajuan tambahan untuk ketersediaan penyuluh tersebut. Namun, sejauh ini masih belum ada informasi lebih lanjut dari pusat.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Menurutnya, meski terbilang minim, instansinya tetap memperhatikan kualitas SDM penyuluh, salah satunya seperti melakukan pembinaan penyuluh.

“Dari 14 penyuluh itu, hanya empat orang yang PNS. Sementara 10 orang lainnya adalah penyuluh perikanan bantu,” ungkapmya.

Sementara itu, Penyuluh Perikanan Kecamatan Larangan, Lydia Syafriana, mengatakan dirinya bertanggung jawab di seluruh desa yang ada di kecamatan setempat, yakni 11 desa. Meski tidak ideal, menurutnya, tidak ada kendala yang cukup signifikan dalam proses penyuluhan. Hanya saja, waktu penyuluhan dengan masyarakat nelayan atau kelompok pembudidaya ikan tidak sama.

Di wilayah kerjanya, kata Lydia, yang kerap kali menjadi keluhan masyarakat adalah hasil tangkapan yang semakin sulit. Dengan begitu, pihaknya memberikan sosialisasi atau pembinaan terkait penangkapan ikan tangkap yang sesuai dengan prosedur.

“Keluhannya juga terkait tempat pelabuhan kapal yang kurang memadai. Pembinaan lain, meliputi sosialisasi alat tangkap ramah lingkungan, perizinan, pemenuhan dokumen, dan lain-lain yang berkaitan dengan perikanan,” ujarnya.

Pewarta: Safira Nur Laily

Redaktur: Sule Sulaiman

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *