KABAR MADURA | Pedagang konveksi di Sumenep mengakui usahanya sangat terdampak menjamurnya transaksi jual beli online atau e-commerce.
Windiyati (39), salah satu pedagang di Sumenep mengaku sudah hampir 12 tahun berjualan baju, celana, kerudung, dan produk konveksi lain. Dalam dua tahun belakangan, omzetnya terus menurun. Pada 2022 lalu, penghasilan bersihnya bisa senilai Rp450 ribu per hari. Lalu, pada tahun 2023, turun hingga Rp230 ribu per hari. Bahkan di 2024 ini, turun drastis hingga Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per harinya.
“Saya merasa penjualan secara online sangat berdampak pada perekonomian saya, sehingga saya memilih berhenti berjualan baju,” katanya, Senin, (15/7/2024).
Wiwin, pedagang konveksi lainnya juga demikian. Kini dia beralih jualan bahan makanan pokok seperti beras telur, tahu, dan lainnya, barang yang diklaim jarang dibeli via online.
“Insya Allah saya akan buka bulan depan, harapannya butuh juga dukungan masyarakat,” paparnya.
Atas kondisi itu, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari menekankan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep membuat program khusus mengenai pemasaran secara online, hal itu juga itu salah satu strategi menyaingi penjual online pada umumnya.
“Ini wajib diseriusi, jika bisa pada PAK 2024 atau APBD murni 2025 mendatang dianggarkan,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM dan Perindag) Sumenep Idham Halil mengakui bahwa penjualan secara online sangat berdampak pada pedagang konvensional. Mengenai usulan program atau semacam bantuan, akan diusahakan. Karena ketersediaan anggaran masih jadi masalah utama.
“Terdekat pada PAK 2024, termasuk pada APBD 2025 diusahakan untuk diusulkan, semoga terkabul,” kata Idham.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





