Stunting Pamekasan Turun Jadi 2,56 Persen, Lampaui Target Pemkab

Kesehatan6 views

KABAR MADURA | Memasuki bulan Juni 2026, angka stunting di Pamekasan mengalami penurunan yang signifikan, sebanyak 2,56 persen. Angka keberhasilan tersebut tercatat melampaui target maksimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan untuk tahun 2026, yaitu sebesar 6 persen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Dr. Saifuddin, melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Ahmad Syamlan, mengungkapkan bahwa tren penurunan tersebut terlihat jelas jika dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya.

“Data stunting bulan lalu Mei berada di angka 3,25 persen, dan untuk bulan Juni ini ralatnya sudah turun jauh ke angka 2,56 persen. Ini sudah sangat bagus karena berada jauh di bawah target utama kami tahun 2026, yang sebesar 6 persen,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Berdasarkan data terbaru, per 23 Juni 2026, yang dirilis Dinkes Pamekasan, pengukuran telah dilakukan terhadap 50.343 balita dari total sasaran proyeksi sebanyak 64.664 anak. Dari hasil tersebut, ditemukan sebanyak 1.291 balita yang mengalami stunting.

Grafik data juga menunjukkan bahwa rata rata prevalensi stunting di seluruh wilayah puskesmas se-Kabupaten Pamekasan, yang kini sudah berhasil ditekan di bawah angka 5 persen.

Namun jika menilik sebaran wilayah, terdapat dua wilayah kerja puskesmas yang mencatatkan persentase stunting tertinggi dibandingkan wilayah lainnya, yakni Puskesmas Tlanakan sebesar 5,56 persen atau sebanyak 146 anak, dan Puskesmas Larangan sebesar 5,32 persen atau sebanyak 127 anak.

Sebaliknya, angka stunting terendah ada di Puskesmas Larangan Badung dengan prevalensi hanya 0,12 persen atau sebanyak 3 anak, dan Puskesmas Tampojung Pregi sebesar 0,47 persen atau sebanyak 10 anak.

Syamlan juga menerangkan mengenai faktor penyebab yang paling dominan dalam kasus stunting di Pamekasan yaitu dari pola asuh dari orang tua masih menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar, melampaui faktor ekonomi ataupun pernikahan dini.

“Penyebab yang masih banyak ditemukan terhadap terjadinya stunting saat ini yaitu faktor pola asuh,” jelasnya.

Mengenai realisasi program penunjang seperti pemberian makanan tambahan (PMT) dan yang berasal dana alokasi khusus (DAK) untuk penanganan stunting, Dinkes Pamekasan memastikan serapan anggaran dan jalannya program tidak mengalami kendala yang mana persoalan justru muncul di tingkat teknis lapangan, khususnya terkait kondisi geografis.

“Untuk dana program PMT sampai saat ini tidak ada masalah. Yang menjadi kendala hanya masalah transportasi untuk mengantar makanan ke sasaran yang jarak rumahnya cukup jauh,” tambahnya.

Baca Juga:  Kemenag Pamekasan Dukung Usulan Guru Madrasah Swasta Diangkat PPPK 

Dalam mengatasi hambatan tersebut, Dinkes Pamekasan mengedepankan sistem gotong royong dan subsidi silang bagi setiap petugas, ataupun petugas wilayah di lapangan. 

“Perlu keikhlasan hati dari para petugas di lapangan. Jadi, untuk wilayah yang jaraknya dekat bisa melakukan subsidi silang bantuan akomodasi dengan wilayah yang jaraknya jauh,” lanjutnya.

Agar penurunan terus berlanjut dan target jangka panjang dapat dibereskan, maka Dinkes Pamekasan kini tengah fokus pada strategi peningkatan capaian indikator.

Saat ini, Syamlan mengatakan bahwa tingkat kehadiran warga ke posyandu di Pamekasan sudah mencapai angka 93 persen. Targetnya, angka partisipasi tersebut bisa terus diperdalam hingga menyentuh 100 persen pada bulan ini dari target minimal yang ditentukan sebesar 95 persen.

“Kami mengimbau dan berharap penuh kepada masyarakat agar lebih rajin dan aktif datang ke posyandu. Selain itu, mohon diperhatikan betul pola asuh terhadap anak serta pemenuhan asupan gizi harian mereka,” tutupnya. (km96/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *