KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Demi meningkatkan pengimplementasian Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yakni setiap siswa harus memiliki keyakinan adanya tuhan yang maha esa. Sehingga untuk mencapai hal tersebut siswa dituntut memiliki kemampuan baca kitab dan memahaminya. Kegiatan ini dikemas dengan Lomba Baca Kitab Kuning dengan Metode Al-Fatih tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Hotel Cahaya Berlian Pamekasan, Rabu (6/12/2023).
Acara yang dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Sekretariat Daerah (Setda) Pamekasan Didik Hariadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan Akhmad Zaini, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Ridwan, para guru agama dari tingkat SMP dan puluhan peserta lomba berlangsung khidmat dan seru. Sebab semua peserta mengasah kemampuan agar menjadi juara.
“Secara umum, literatur yang bisa menjadi refrensi Bahasa Arab yakni memahami dan lancar baca kitab kuning. Jadi lomba ini untuk mengetahui sejauh mana hasil dari program Baca Kitab Kuning yang sudah terlaksana sebelumnya,” ujar Kepala Disdikbud Pamekasan Akhmad Zaini kepada Kabar Madura.
Dia menjelasjan, inovasi pembelajaran baca kitab kuning melalui metode al-fatih sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Hanya saja dalam perjalanannya sempat tidak optimal lantaran Covid-19. Pembelajaran tersebut berlangsung optimal selama dua tahun. Keistimewaan dari pembelajarannya, merupakan program satu-satunya di tingkat Jawa Timur (Jatim) hingga tingkat nasional. Seban jenjang SMP yangbtersiar lebih fokus terhadap ilmu umum.
“Justru baru di Pamekasan ada pembelajaran baca kitab kuning, hal ini hanya untuk menangkap keinginan para orang tua agar anaknya mampu membaca kitab kuning. Insya Allah di tingkat Jatim, kami bisa pastikan hanya ada di Pamekasan. Mungkin se-Indonesia tidak ada, tapi saya belum meneliti,” jelasnya.
Secara teknis, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Ridwan menuturkan, lomba ini sebagai tindak lanjut dari lomba baca kitab kuning di setiap sekolah yang dilaksanakan sebelumnya. Sehingga dalam tahapannya dipastikan penilaian dilakukan secara objektif. Sebab tim juri tidak berasal dari guru agama jenjang SMP. Kegiatan lomba ini diikuti 68 siswa sebagai peserta lomba.
“Jurinya itu bukan dari guru agama yang mengajar di tingkat SMP, tapi kami mengambil dari ekternal, agar objektifitas terjamin,” tuturnya.
Pewarta: Khoyrul Umam Syarif
Redaktur: Totok Iswanto





