KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Terbentuknya desa tangguh bencana (destana) di Pamekasan masih terbilang minim. Dari total 189 desa dan kelurahan, hanya 14 desa/kelurahan yang terbentuk destana dari tahun 2017 hingga 2023. Minimnya pembentukan destana itu dikarenakan anggaran tidak mencukupi.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Kesiapsiagaan dan Pengendalian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan H. Zainal Mistuki Arifin mengatakan, tahun ini hanya mampu membentuk satu destana, yakni di Desa Tanjung. Pasalnya, anggaran yang tersedia dari daerah sangat terbatas.
“Satu pembentukan destana Rp100 juta. Termasuk sosialisasi, pelatihan dan lainnya. Tahun ini, anggarannya dari provinsi bukan dari daerah. Karena kalau dari daerah sangat terbatas,” terangnya, kepada Kabar Madura.
Untuk tahun 2024 mendatang, pihaknya telah mengajukan dua desa sebagai sasaran terbentuknya destana ke provinsi, yakni di Desa Kolpajung dan di Pegantenan. Dimungkinkan, keduanya akan terpenuhi. Menurut Mistuki, desa yang dibentuk sebagai destana tersebut merupakan wilayah yang berpotensi rawan bencana cukup tinggi. Sehingga, diharapkan bisa menanggulangi bencana secara mandiri ketika sudah terbentuk desatana.
Nantinya, lanjut Mistuki, desa yang sudah terbentuk sebagai desatana itu akan melakukan beberapa program yang diantaranya meliputi pengkajian risiko bencana, pembentukan forum relawan bencana desa atau kelurahan, perpaduan program kebencanaan di tingkat desa atau kelurahan dan lainnya.
“Semoga tahun depan bisa lebih dari satu. Sehingga terbentuknya desatana ini semakin banyak dan bisa menanggulangi bencana secara mandiri. Karena dalam penanggulangan bencana itu, kami butuh partisipasi dari masyarakat juga,” jelasnya.
Untuk diketahui, 14 desa atau kelurahan yang sudah terbentuk destana adalah Sumedengan, Lemper, Kengenan, Jalmak, Laden, Patemon, Parteker, Jungcangcang, Gladak Anyar, Bugih, Tanjung, Nyalabu Laok, Tebul Barat, dan Barurambat Timur.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





