KABAR MADURA | Banyak keluarga pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan yang mengeluhkan tentang mekanisme observasi pasien sebelum penanganan oleh tim medis.
Padahal, menurut Direktur RSUD Smart Pamekasan dr. Budi Santoso, ada mekanisme medis yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian oleh petugas medis sebelum melakukan penanganan terhadap pasien.
Dia menjelaskan, saat pasien baru masuk ke ruang instalasi gawat darurat (IGD), pertama-tama yang dilakukan petugas medis adalah fast respon menilai kondisi pasien, apakah masuk prioritas penanganan P1, P2, atau P3.
“P1 itu artinya pasien perlu penanganan prioritas tinggi dimana semua pekerjaan harus ditinggalkan dan full support menangani pasien P1, setelah P1 stabil baru kemudian petugas medis menangani P2 atau P3,” jelasnya, Sabtu (4/5/2024).
dr. Budi menegaskan, sering kali pasien perlu diberikan rehidrasi dulu (infus) sebelum tindakan yang lain dilakukan.
Menurutnya, hampir setiap pasien dilakukan pemeriksaan laboratorium. Di mana pengambilan sampel laboratorium itu dilakukan oleh petugas laboratorium, dan petugas laboratorium itu juga mengambil sampel di tempat-tempat lainnya secara bergiliran.
“Jadi, pasien di IGD perlu memang “dibiarkan” di IGD untuk di observasi,” imbuhnya.
Pihaknya juga menambahkan, proses observasi yang dilakukan petugas medis di IGD juga membutuhkan waktu yang bisa sampai enam jam sejak pasien masuk.
Kemudian, setelah observasi dilakukan, sambil lalu menunggu antrean laboratorium, petugas medis juga memantau stabilisasi pasien sampai kondisinya benar-benar stabil.
Di samping itu, pasien juga harus menunggu proses antrean radiologi, menunggu informasi konsultasi spesialis, menunggu hasil test obat semisal antibiotik.
“Baru petugas melakukan pertolongan pada pasien P1, sambil lalu menunggu persetujuan keluarga dan kesiapan kamar. Tahapan ini yang perlu dipahami keluarga pasien,” tutupnya.
Reporter: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





