KABAR MADURA | Pengawasan terhadap hewan kurban sudah mulai dilakukan. Sasarannya, terdapat 25 lokasi lapak hewan. Pengawasan itu tidak hanya di pasar saja, melainkan juga menyasar ke pangkalan hewan yang tersebar di seluruh kecamatan.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Selamet Budiharsono mengatakan, pengawas hewan tersebut terdiri dari delapan dokter hewan dan 50 paramedis. Pada minggu pertama pengawasan, tidak ditemukan hewan sapi maupun kambing yang terindikasi terkena virus.
“Kalau sakit yang serius tidak ada, paling cuma sakit mata, dan itu langsung kami kasih obat. Karena yang harus dijual untuk kurban itu memang harus sehat,” jelasnya, Senin (10/6/2024).
Meski terbilang minim, pengawasan hewan kurban tetap bisa dilakukan sesuai rencana. Pasalnya, tenaga pengawas dibagi berdasarkan wilayah di masing-masing pusat kesehatan hewan (puskeswan). Selamet menjelaskan, untuk Puskeswan Galis, mencakup pengawasan di Kecamatan Pademawu, Larangan, dan Kadur. Sementara Puskeswan Pakong mencakup pengawasan di Kecamatan Pegantenan, Palengaan, dan Pakong. Puskeswan Pamekasan mencakup pengawasan Kecamatan Tlanakan dan Proppo. Sedangkan Puskeswan Waru mencakup pengawasan Pasean dan Batumarmar.
“Yang sudah dilakukan pengawasan itu di Klompang Barat, Klompang Timur, Plakpak, Pegantenan, Palengaan, Samatan. Total ada 25 lokasi lapak hewan yang akan dilakukan pengawasan,” tuturnya.
Sebelumnya, Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Ismail sudah mewanti-wanti agar pengawasan terhadap hewan kurban harus dioptimalkan. Pasalnya, menyangkut kualitas daging yang akan dikonsumsi. Menurut politisi Demokrat itu, minimnya ketersediaan dokter hewan dan paramedis itu harus segera dilakukan survei terkait kebutuhan sumber daya manusia (SDM). Sehingga, penanganan terhadap hewan secara umum bisa lebih optimal.
“Kelayakan hewan kurban harus tetap terjaga, jadi lakukan monitoring ke bawah, untuk memaksimalkan pemeriksaan hewan,” tegasnya.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





