KABAR MADURA | Bulan Suro atau bulan Muharram memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari larangan untuk keluar di malam satu Suro hingga tidak disarankan untuk melangsungkan pernikahan selama bulan Suro. Sebab, bulan ini identik dengan kesialan. Mitos-mitos yang melekat pada bulan tersebut tidak pernah lepas dari kepercayaan masyarakat kuno tentang perjanjian Panembahan Senopati Mataram dengan Nyi Roro Kidul.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Hafid Effendy mengatakan, muasal larangan keluar malam hari saat satu Suro lantaran ada perjanjian Nyi Roro Kidul yang akan membantu Kerajaan Mataram untuk melawan musuh. Sebab itu, sebagian masyarakat Jawa menganggap bahwa apabila keluar malam hari akan terbunuh.
“Perjanjian itu dikenal dengan perjanjian Adiproyo. Tapi ada sebagian masyarakat yang memperbolehkan keluar rumah, tapi harus menggunakan obor, salah satunya masyarakat Madura,” tuturnya, Minggu (7/7/2024).
Seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan obor di malam satu Suro dijadikan sebagai simbol kemeriahan tradisi, maka tidak heran apabila sebagian daerah melakukan pawai obor atau arak-arakan, termasuk di Pamekasan.
Mitos lain tentang bulan Suro adalah tidak dianjurkannya melangsungkan pernikahan. Sebab, diyakini bisa mengakibatkan sial dalam rumah tangga yang dijalani. Hafid mengungkapkan, kepercayaan terhadap mitos tersebut merupakan kewenangan masing-masing individu, selama tidak menyalahi ajaran Islam yang berdasar pada Alquran dan Hadist.
“Madura ini merupakan akulturasi budaya Jawa. Makanya, dalam perayaan dan kepercayaan mitosnya ada yang sama,” tambahnya.
Kendati memiliki beragam mitos, dosen Islam dan Budaya Madura itu mengungkapkan, ada keistimewaan tersendiri untuk bulan Suro, yakni sebagai bulan pembuka tahun dalam hitungan Hijriyah. Sehingga, memiliki beberapa keutamaan, seperti terdapat amalan atau doa khusus awal tahun. Hal itu sebagai bentuk penghambaan diri kepada pencipta selama satu tahun ke depan.
Maka tidak heran, apabila dalam menyambut bulan Muharram atau malam satu Suro, masyarakat melakukan ngaji bersama dan kegiatan ubudiah lainnya.
“Semua rangkaian perayaan pada intinya adalah bentuk penghambaan diri kepada pencipta. Mulai dari bentuk rasa syukur, dan lainnya. Terkait mitos, selama tidak menyalahi ajaran Islam, tidak apa-apa, sah-sah saja untuk dipercaya,” tutup Ketua Pakem Maddhu tersebut.
Redaktur: Sule Sulaiman





