KABAR MADURA | Petani garam di Pamekasan mulai khawatir dengan harga garam yang mengalami penurunan dibandingkan musim tahun lalu. Padahal saat ini, petani sudah mulai memasuki produksi garam. Kekhawatiran itu salah satunya dirasakan oleh warga asal Dusun Capak, Desa Pandan, Kecamatan Galis, Viki Wahyudi.
Dia mengatakan, saat ini harga garam hanya Rp800 ribu per ton. Padahal sebelumnya, pernah tembus di angka Rp6 juta per ton. Meski pada akhirnya lambat laun harga tersebut mengalami penurunan hingga di angka Rp1 juta. Menurutnya, qngka itu masih terbilang cukup apabila dibandingkan dengan harga yang musim sekarang, yakni hanya Rp800 ribu.
Meski tidak ada kerugian yang cukup signifikan, Viki berharap harga garam itu nantinya bisa terus naik, agar bisa mendapatkan untung yang lebih layak. Sebab, biaya produksi garam terhitung tidak sedikit.
“Dengan harga Rp800 ribu, mau dibilang rugi tidak begitu rugi juga sebenarnya. Tapi tidak untung juga. Kalau tahun kemarin tembus Rp6 juta, turun ke Rp4 juta, Rp3 juta, Rp2 juta, Rp1.5 juta, dan Rp1 juta per ton,”
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan Abdul Fata mengutarakan, adanya faktor cuaca La Nina tahun ini berpengaruh terhadap produksi garam. Sehingga, berpengaruh juga terhadap realisasi harga garam. Namun, pihaknya tidak bisa mengontrol penuh atas fluktuasi harga tersebut, sebab bukan wewenangnya.
Kendati demikian, pihaknya hanya bisa memastikan pemberdayaan kualitas produksi garam tetap terjaga, salah satunya dengan pemanfaatan geomembran. Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait mengenai penyerapan garam.
“Soal harga, kami tidak bisa melakukan penekanan apa-apa. Tapi semoga harga garam ke depan bisa naik demi kesejahteraan petani. Kami juga koordinasi dengan pabrikan untuk penyerapan garam,” ungkapnya.
Untuk diketahui, capaian produksi garam pada semester pertama 2024 ini sudah mencapai 2.256 ton, yang tersebar di tiga wilayah penghasil garam, yakni Kecamatan Tlanakan, Galis, dan Pademawu.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





