Cerita Dumiyati Puluhan Tahun Bersahabat dengan Laut: Penghasilan dan Potensi Kecelakaan Tidak Sebanding

KABAR MADURA | Bersahabat dengan laut sejak kecil bukan suatu hal yang baru bagi masyarakat pesisir. Mereka sudah terbiasa melaut. Tidak hanya satu atau dua jam di laut, tapi bisa berhari-hari. Itulah yang dialami oleh Dumiyati, nelayan asal Dusun Mayang, Desa Branta Pesisir, sejak dirinya lulus SMP.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN 

Meski mulai melaut sejak lulus SMP, Dumiyati masih diselimuti rasa takut setiap kali melaut. Sebab, maut dan nahas seorang tidak bisa diprediksi. Namun, kekhawatiran dan ketakutan itu berusaha terus dibuang agar bisa berlayar demi mendapatkan penghasilan. 

Bagi pria kelahiran 1988 itu, pendapatan dan potensi bahaya di laut tidak sebanding. Terkadang, hasil yang didapatkan hanya cukup untuk mengganti uang solar dan kebutuhan lain saat melaut. Namun, bagi Dumiyati tidak ada pilihan lain untuk menghidupi keluarganya selain menjadi nelayan. 

“Kalau berlayar biasa, berangkat setelah subuh pulang ke daratan sekitar jam satu atau jam dua. Kadang hasilnya Rp500 ribu. Kadang hanya cukup untuk mengganti uang solar. Sekali jalan, solar habis Rp200 ribu hingga Rp250 ribu,” terangnya, Kamis (10/10/2024). 

JJS Kabar Madura

Saat mencari ikan di laut, Dumiyati pernah mengalami kecelakaan. Suatu waktu, ia pernah terlilit tali ketika hendak melempar jaring, hingga membuatnya terjatuh ke dalam laut. Beruntung ia masih bisa tertolong dan selamat. 

Bagi nelayan seperti dirinya, laut layaknya menjadi sahabat. Bahkan, laut juga menjadi penunjang utama dalam menopang kebutuhan sehari-hari dalam hidupnya. Dumyati berharap, ada perhatian khusus secara merata dari pemerintah daerah dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan para nelayan.

“Kalau nge-box, bisa empat hari di laut. Abhental omba’ a sapo’ angi. Penghasilannya bisa jutaan, pengeluarannya juga tidak kalah besar,” tukasnya. (zul)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *