Kisah Sukses Kiai Abdul Basith Jadi Dai Kondang: Berawal dari Ceramah di Koloman Sarwah

Berita, News584 views

KABAR MADURA | Setiap perjalanan hidup seseorang pasti memiliki cerita menarik tersendiri dan mengandung hikmah yang patut diambil. Seperti perjalanan Dr. KH. Abdul Basith Mansir yang kini sukses menjadi penceramah kondang, bahkan didapuk menjadi Dai Kamtibmas Polda Jawa Timur.

PAMEKASAN, KHOYRUL UMAM SYARIF

Kiai Basith tidak pernah bercita-cita ingin menjadi penceramah. Namun, seiring berjalannya waktu, dewan pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Desa Bungbaruh Kecamatan Kadur itu, dipercaya untuk berdakwah di berbagai kegiatan.

Kiai Basith pertama kali berceramah di Koloman Sarwah di tempat kelahirannya, Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan. Rupanya itu menjadi awal mulanya dikenal bisa mengisi pengajian.

Sejak itu, dia mulai diundang berceramah dari desa ke desa. Menurut Kiai Basith, undangan untuk berceramah semakin padat pasca dirinya menikah dengan Neng Kinanah pada 2013 lalu.

“Lalu, 2019 sudah mengisi ceramah di beberapa instansi pemerintah, seperti di Kantor Kemenag dan beberapa kampus di Madura. Saya tidak pernah belajar berceramah di pondok. Makanya teman-teman saya itu heran, kok bisa menjadi seorang dai, wong sukanya bahtsul masail dan MC,” ujar jebolan S3 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu.

Pada 2022, Kiai Basith dipercaya untuk menjadi Dai Kamtibmas Polres Pamekasan. Kemudian dua tahun berikutnya, diminta untuk menjadi Dai Kamtibmas Polda Jatim. Kiai Basith mengaku, awalnya tidak berkenan. Namun, setelah mempertimbangkan kontribusi untuk menata kebaikan umat, maka ia menyetujui permintaan tersebut.

“Konsep saya itu, tidak ada sukses yang gratis. Semua  butuh kesabaran, perjuangan, dan doa dari orang tua serta guru,” terang wakil ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pamekasan tersebut.

Kini Kiai Basith sudah menjadi penceramah kondang. Undangan untuk mengisi ceramah selalu padat, apalagi di momen-momen tertentu, seperti bulan Rabiul Awal. Namun, dibalik sibuknya mengisi ceramah, Kiai Basith tidak pernah meninggalkan kewajiban lainnya, yakni mengajar santri.

Selain itu, Kiai Basith juga dikenal sebagai sosok ayah yang sangat sayang keluarga. Di sela-sela aktivitasnya yang padat itu, dirinya selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan buah hatinya meskipun sebentar.

“Saya usahakan tetap pulang ke rumah habis mengisi ceramah, karena saya memiliki kewajiban kepada keluarga. Saya harus pintar membagi waktu, bagaimana istri saya, anak saya bisa bahagia bersama saya, sekali-kali diajak jalan-jalan,” terangnya.

Kata Kiai Basith, setiap penceramah pasti memiliki tantangan tersendiri. Apalagi tidak semua orang suka atas apa yang disampaikannya, begitupun sebaliknya. Sehingga perlu dihadapi dengan sabar dan istikamah.

“Tantangan pendakwah juga seorang perempuan, karena mesti ada orang yang merayu. Sering saya ditelepon, minta pertemanan dan sebagainya. Kemudian mau jadi istri kedua, tapi itu tidak saya layani, itu bagian dari ujian. Kata guru saya itu, semakin tinggi pohon, maka akan semakin dahsyat angin yang menerjang,” ungkap kiai yang juga aktif menjadi dosen di Universitas Annuqayah Sumenep itu. (zul)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *