KABAR MADURA | Angka kasus penyakit kuku dan mulut (PMK) yang menyerang sapi kembali naik di beberapa wilayah, termasuk di Pamekasan. Hal itu membuat resah para peternak sapi.
Peternak sapi asal Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Muhsin Alatas, mengatakan, cukup khawatir dengan kembali merebaknya virus PMK. Ia berharap, segera ada bantuan vaksin dari pemerintah daerah untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut.
“Khawatir pasti ada, apalagi punya tetangga sapinya ada yang mati karena sakit. Makanya kami berharap ada bantuan vaksin dari pemerintah,” ujarnya kepada Kabar Madura, Senin (6/1/2025).
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Indah Kurnia Sulistiorini mengatakan, kuota vaksin PMK tahun ini masih belum diketahui secara pasti. Sebab belum ada informasi lebih lanjut dari pemerintah pusat.
“Rata-rata sapi yang sakit bergejala klinis seperti PMK. Sekitar ada 400-an ekor. Tapi yang sembuh banyak juga. Sementara yang mati sekitar 19 ekor, dan yang dipotong paksa terdapat belasan,” jelasnya.
Pihaknya berharap, dalam waktu dekat pemerintah pusat kembali mengalokasikan vaksin PMK. Sebab, lanjut Indah, vaksin PMK tergolong mahal. Terakhir, keseluruhan yang sudah divaksinasi sekitar 150 ribu ekor sapi. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau peternak untuk tetap menjaga asupan gizi sapi dan kebersihan kandang.
“Tidak hanya di Pamekasan, secara nasional pun, yang Januari (bantuan) vaksin masih belum ada. Kalaupun ada, peternak beli sendiri. Nah, itulah pentingnya melakukan pencegahan,” terangnya.
Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Nadi Mulyadi menegaskan, dalam menekan penyebaran PMK, dinas terkait harus melakukan tindakan preventif secara terpadu. Salah satunya, melalui pemaksimalan pusat kesehatan hewan (puskeswan).
“Kita harus jemput bola untuk untuk menekan penyebaran PMK ini. Seperti adanya pasar terpadu yang dilengkapi dengan puskeswan,” tegas politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu. (nur/zul)





