Ronjhangan, Alat Penumbuk Padi Tradisional, Dilestarikan Lewat Kemasan Seni Pertunjukan

News52 views

KABAR MADURA | Ronjhangan atau lesung untuk menumbuk padi. Di Pamekasan, alat ini sudah jarang ditemukan. Umumnya, ronjhangan terbuat dari kayu. Di tangan Cahyanto, ronjhangan menjadi seni tari pertunjukan. Pendiri Sanggar Seni Makan Ati ini berupaya untuk menjaga tradisi agar tetap lestari. Selain memang memiliki filosofis yang cukup tinggi.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Ronjhangan tidak hanya dijadikan sebagai alat penumbuk padi. Namun, di sejumlah daerah, juga menjadi permainan tradisional yang sarat akan makna. Sayangnya, kini ronjhangan mulai tiada. Kendati demikian, masih banyak cara untuk tetap mengeksiskan ronjhangan di dunia generasi muda. Salah satunya, melalui kemasan seni pertunjukan.

Pendiri Sanggar Seni Makan Ati Cahyanto mengatakan, ronjhangan memiliki nilai filosofis yang cukup tinggi. Dalam implementasinya, dibutuhkan kerja sama beberapa orang agar padi yang ditumbuk halus sebagaimana yang diinginkan.

Artinya, kata Cahyanto, dalam ronjhangan mengandung makna gotong royong. Sifat tersebut cukup menggambarkan masyarakat Pulau Garam. Selain itu, suara yang ditimbulkan saat proses penumbukan memiliki instrumen yang berbeda-beda, bergantung pada suasana yang berlangsung. Seperti pernikahan, yang merujuk pada alunan kebahagiaan, begitupun sebaliknya.

JJS Kabar Madura

“Sekitar tahun 2006, kami bawa seni pertunjukan ronjhangan di salah satu event Jawa Timur. Waktu itu kami masuk lima penyaji terbaik. Beberapa kali juga pentas di event-event lain,” jelasnya, Senin (3/2/2025).

Ia mengatakan, melalui pertunjukan tersebut, pihaknya berusaha untuk mengenalkan atau mengingatkan tentang eksistensi ronjhangan. Sebab menurut Cahyanto, meski alat tradisional itu sudah tidak lagi digunakan oleh masyarakat, keberadaan ronjhangan harus tetap ada dan terus terdengar dari generasi ke generasi. Sebab, ronjhangan bagian dari tradisi yang harus tetap lestari.

“Ronjhangan itu bukan hanya sebatas alat penumbuk padi. Tapi membangun suasana kebersamaan dengan orang lain,” terangnya. (din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *