KABAR MADURA | Lebih dari 20 persen penduduk muda Indonesia yang berusia 15-24 tahun atau gen Z masuk dalam golongan NEET. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 20,31 persen masyarakat muda Indonesia tidak dalam bersekolah, kerja, ataupun mengikuti keterampilan khusus.
Istilah NEET sendiri muncul sejak 1999 yang dikenalkan di Inggris. Kemudian berkembang ke negara lain, seperti Jepang, yang dikenal dengan sebutan hikikomori, dan Spanyol dengan istilah generasi ni-ni.
NEET merupakan singkatan dari not in education, employment, or training. Artinya, masyarakat muda yang tergolong dalam NEET itu tidak dalam keadaan bersekolah, tidak bekerja, dan tidak sedang mengikuti pelatihan keterampilan khusus.
Dilansir dari berbagai sumber, dalam satu dekade terakhir, NEET di Indonesia mengalami penurunan grafik. Pada 2015, persentase NEET berada di angka 24,77 persen. Sementara 2024 turun menjadi 20,31 persen.
Saat ini, sebaran tertinggi NEET berada di Papua Tengah dengan persentase 31,2 persen. Kemudian disusul dengan Maluku dengan angka 29,43 persen. Tertinggi ke tiga ada di Aceh dengan sebaran 28,56 persen.
Sementara paling sedikit sebaran NEET-nya, adalah Bali dengan angka 7,26 persen. Sedangkan terendah kedua adalah Yogyakarta dengan sebaran 11,8 persen.
Secara umum, terdapat tiga faktor penyebab tingginya angka NEET. Pertama, adanya ketimpangan akses pendidikan di sebagian daerah. Kedua, ketidakpastian di dunia kerja. Lalu ketiga, kurangnya keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja modern. (nur/zul)





