KABAR MADURA | Perjalanan awal Madura United dalam mengarungi BRI Super League 2025-2026, kurang mengenakkan. Tidak hanya gagal mempertahankan tradisi menang di laga perdana kompetisi, Laskar Sape Kerrab juga harus menerima kado pahit berupa sanksi dengan denda hingga Rp70 juta dari PSSI.
Federasi sepak bola Indonesia itu, menghukum Laskar Sape Kerrab pada dua laga perdana melalui Komisi Disiplin (Komdis). Persoalannya cukup klasik, yakni pelanggaran terhadap larangan suporter tandang.
Pada laga perdana, Madura United dihukum lantaran gagal mengantisipasi datangnya suporter Persis Solo ke Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Sabtu (9/8/2025).
Tidak hanya dihukum lantaran gagal mengantisipasi hadirnya suporter Laskar Sambernyawa ke SGMRP, Madura United juga didenda lantaran terjadi insiden pelemparan botol air mineral antarsuporter di stadion.
Atas dua pelanggaran itu, Panitia Pelaksana (Panpel) Madura United dijatuhi denda dengan total Rp45 juta oleh Komdis PSSI.
Di pekan kedua, kala menang atas Persik Kediri, klub milik Prof. Achsanul Qosasi itu kembali dijatuhi denda oleh Komdis PSSI. Lagi dan lagi, kehadiran suporter ke stadion jadi dasar sanksi diterima oleh Laskar Sape Kerrab.
Pada pertandingan yang dihelat di Gelora Joko Samudro Gresik, Sabtu (16/8/2025), suporter Madura United terbukti hadir di laga tandang Madura United. Akibatnya, Komdis PSSI kembali memberikan denda sebesar Rp25 juta kepada Madura United.
Total, di dua pekan awal kompetisi BRI Super League, Madura United sudah didenda hingga Rp70 juta oleh Komdis PSSI.
Manajemen pun terpaksa memberikan imbauan kepada para suporter Madura United. Melalui akun resmi klub, manajemen meminta dan mengajak seluruh suporter Madura United untuk lebih taat dan menghormati regulasi yang sudah ditetapkan.
“Kami mohon untuk lebih bijak menaati regulasi yang masih berlaku. Dukungan kalian sangat berarti tetapi tidak merugikan tim. Cukup dukung dari rumah saat tandang dan bantu doa lewat jalur langit,” tulis akun Instagram Madura United.
Menanggapi sanksi dan denda hingga puluhan juta yang dijatuhkan Komdis PSSI ke Madura United, Ketua Aliansi Suporter Madura Munadi angkat bicara.
Menurutnya, federasi dan operator liga hanya menjadikan suporter sebagai kambing hitam dalam menjatuhkan sanksi dan denda kepada klub. Apalagi selama ini, sanksi yang diberikan tidak bersifat pembinaan, lebih pada nominal rupiah.
Munadi mengaku jenuh dengan sikap federasi yang selalu menyalahkan suporter dalam setiap insiden yang terjadi di lapangan selama pertandingan.
Padahal, menurut dia, larangan suporter away merupakan bentuk ketidakbecusan federasi dan operator liga dalam melakukan pembinaan terhadap suporter.
“PSSI sendiri bikin aturan tidak jelas, yang disalahkan selalu suporter, mana bisa suporter dilarang away tapi tiket harus dijual secara online, ini jadinya kontraproduktif antara regulasi satu dengan lainnya,” sesal Munadi. (pin/waw)





