KABAR MADURA | Anggaran bantuan droping air bersih di Kabupaten Sampang pada musim kemarau tahun ini mengalami pemangkasan hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang, Fajar Arif Taufikurahman, menjelaskan pemangkasan dilakukan karena keterbatasan anggaran daerah.
“Jika tahun sebelumnya setiap mendapatkan bantuan droping air sebanyak empat tangki, maka tahun ini akan mendapatkan dua tangki saja,” katanya kepada Kabar Madura, Selasa (10/9/2025).
Usulan anggaran awal sebenarnya sebesar Rp150 juta. Namun, tambah Fajar, setelah pembahasan, yang disetujui hanya Rp75 juta. Kondisi itu berdampak cukup signifikan, terutama bagi desa-desa yang sangat bergantung pada bantuan droping air bersih.
Meski demikian, BPBD Sampang memastikan tetap melakukan skala prioritas. Droping air bersih akan dipusatkan pada daerah yang masuk kategori kekeringan kritis dan sulit akses air.
“BPBD tetap mengupayakan agar kebutuhan paling mendesak dapat tertangani,” imbuhnya.
Fajar juga menegaskan, bantuan droping air bersih tahun ini akan difokuskan kepada 77 desa di 14 kecamatan yang masuk kategori kritis. Sedangkan untuk 18 desa lainnya, penyaluran akan menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Penanggulangan kekeringan tahun depan akan lebih terjamin, karena kebutuhan droping air bersih sudah masuk APBD tahun 2026, sehingga tidak lagi bergantung pada dana BTT atau menunggu P-APBD,” tandasnya.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung, Suadi, menilai kekeringan di desanya merupakan hal yang rutin terjadi setiap tahun. Sebab itu, dia meminta pemerintah daerah bisa menghadirkan solusi jangka panjang.
“Pemerintah daerah hendaknya tidak hanya bertumpu pada program bantuan droping air, namun mencari solusi yang bersifat jangka panjang karena masalah kekeringan terjadi setiap musim kemarau,” jelasnya.
Suadi mencontohkan seperti program sumur bor di setiap dusun di desa terdampak bencana kekeringan. (yan/din)





