KABAR MADURA | Jalan politiknya penuh liku, tiga kali kegagalan saat mencalonkan diri sempat membuat semangatnya nyaris padam. Namun tekad yang tidak pernah runtuh dan keyakinan yang kokoh membuatnya bangkit kembali, melawan rasa putus asa. Hingga akhirnya, Mahfud berhasil menapaki kursi DPRD Sampang, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah tembok penghalang, melainkan batu loncatan menuju kepemimpinan.
SOFYANTO, SAMPANG
Lahir dari keluarga petani sederhana di pelosok Kecamatan Omben, Mahfud tidak pernah membayangkan akan menapaki panggung politik hingga menjadi salah satu pimpinan penting di DPRD Sampang. Orang tuanya yang buta huruf karena hanya menamatkan kelas 3 Sekolah Rakyat (SR) pada era orde lama, tetap berhasil menanamkan nilai berharga dalam hidupnya.
“Sejak kecil saya selalu diajari oleh orang tua untuk bisa bermanfaat bagi keluarga, tetangga, dan orang lain. Dari kecil saya sering kerja bakti,” kenangnya, Minggu (14/9/2025).
Riwayat pendidikannya dimulai dari SD Karang Gayam 4, Kecamatan Omben. Setelah itu, Mahfud sempat mendalami ilmu agama di Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan selama tiga tahun, sebelum melanjutkan sekolah formal. Perjalanannya berlanjut ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, jurusan Bahasa Arab, hingga lulus pada 2006. Lalu, ia mengambil pendidikan magister pada 2012 dan berhasil menamatkannya pada 2015.
Karier politik Mahfud bermula tanpa rencana. Tahun 2004, dia hanya diminta menjadi pemantau pemilu. Awalnya sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk masuk ke dunia politik karena tidak ada akses.
“Pada pertengahan 2004, saya diajak teman untuk gabung ke PKS,” ungkapnya, Minggu (14/9/2025).
Sejak saat itu, langkah politiknya semakin terarah. Pada 2008, dia dipercaya menjadi Ketua DPC PKS Kecamatan Tambelengan. Pemilu 2009 menjadi kali pertamanya maju sebagai calon legislatif, meski gagal.
Tidak patah semangat, Mahfud terus aktif di partai hingga menjabat sebagai Sekretaris DPD PKS Sampang pada 2011, lalu diangkat menjadi Ketua DPD PKS Sampang pada 2015.
Namun jalan menuju kursi legislatif penuh lika-liku. Dua kali kembali nyaleg pada Pemilu 2014 dan 2019, hasilnya tetap belum berhasil. Bahkan, Mahfud sempat ingin berhenti mencoba.
“Saya sebenarnya sudah tidak tertarik lagi nyaleg setelah tahun 2019, tapi dipaksa oleh salah satu saudara saya yang anaknya nyaleg lewat PKS. Dengan terpaksa saya nyaleg kembali,” tegasnya.
Keputusan itu ternyata menjadi titik balik. Meski sempat dinyatakan kalah di tingkat kecamatan, perjuangan Mahfud membuahkan hasil.
“Hasil rekapitulasi Kecamatan saya sudah kalah, tetapi ketika saya interupsi dan meminta membuka kotak suara, alhamdulillah saya menang,” kisahnya.
Kini, Mahfud resmi menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Sampang. Dari anak petani yang sederhana hingga duduk di kursi strategis parlemen daerah, kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kegigihan dan konsistensi dapat mengantarkan siapa saja untuk meraih mimpi. Dia adalah teladan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pijakan menuju keberhasilan. (zul)





