KABAR MADURA | Keseriusan perjalanan akademik Hadiatullah dirintis di setiap jenjang pendidikan yang dilalui. Sejak duduk di bangku S1, ketertarikannya pada dunia riset sudah tumbuh kuat. Rasa penasaran ilmiah itu yang kemudian membawanya terbang jauh ke Tianjin University, Tiongkok, hingga akhirnya lulus sebagai lulusan terbaik program doktor (S3).
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Keputusan Hadi melanjutkan S2 dan S3 ke luar negeri bukan tanpa pergulatan batin. Saat pertama kali mendapat kesempatan studi di Tiongkok pada 2017, pria asal Blumbungan, Kecamatan Larangan itu sempat dihantui kekhawatiran, yakni terkait isu diskriminasi terhadap muslim di wilayah tersebut. Kekhawatiran itu juga dirasakan oleh keluarga.
“Setelah sampai di sana, isu-isi itu tidak benar. Orang-orang lokal sangat respect full (sangat menghormati) terhadap agama yang dianut oleh masing-masing individu. Jadi itu menjawab kebimbangan saya dan keluarga,” jelas alumnus Universitas Brawijaya itu, Senin (9/2/2026).
Perjalanan Hadi selama di Tiongkok seolah direstui semesta. Dia dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang lokal.
Kendati demikian, di awal-awal langkahnya di Tiongkok bukan berarti tidak mulus begitu saja. Bahasa menjadi hambatan utama. Dia datang tanpa kemampuan bahasa Mandarin yang memadai, hanya bermodalkan pengetahuan dua kata dasar, ni hao (halo) dan xie xie (terima kasih).
Selama menempuh studinya di Tiongkok, produktivitas risetnya terbilang luar biasa. Dia terlibat dalam puluhan publikasi ilmiah. 43 riset artikel lainnya dilakukan semasa dia tempuh selama masa doktoralnya.
Bagi pria kelahiran 1993 itu, riset ilmiah yang dilakukan bukan hanya sekadar angka publikasi, namun harapan baru terhadap sebuah pengembangan ilmu pengetahuan.
“Selama menggarap riset, saya selalu berkeinginan untuk menjadi yang pertama selesai, tentu dengan hasil yang maksimal,” jelasnya.
Dikatakan Hadi, lingkungan akademik yang mendukung selama di Tiongkok, membuatnya bisa dengan mudah berkembang, baik dari sisi keterampilan teknis maupun pola pikir ilmiah.
Jiwa kompetitif pria berkacamata itu tidak serta merta muncul dalam dirinya. Sejak kecil sudah ikut beragam perlombaan. Motivasinya itu didorong kondisi ekonomi keluarganya yang tergolong menengah ke bawah.
“Dari kecil saya tidak ingin bergantung ke orang tua. Jadi rajin mengikuti lomba, agar bisa dapat reward,” ungkap Hadi.
Di tengah prestasinya tersebut, Hadi tetap berkomitmen untuk terus membawa lokal daerah di setiap langkahnya. Hal itu sebagai salah satu bentuk kontribusinya dalam memajukan daerah. (waw)





