KABAR MADURA | Gangguan mata minus pada anak perlu mendapat perhatian serius. Sebab, seiring bertambahnya usia, kondisi tersebut berpotensi semakin parah hingga menimbulkan kerusakan mata yang lebih berat.
Biasanya, anak yang mengalami mata minus ditandai dengan kesulitan melihat objek dari jarak jauh. Penyebabnya beragam, mulai dari penggunaan gadget tanpa kontrol, pola hidup yang kurang sehat, hingga faktor genetik atau keturunan.
Dokter Residen Spesialis Mata RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan, dr. Edwin Damar Prabowo, menjelaskan, penggunaan gadget dalam jangka panjang dapat membuat sistem kerja mata tidak stabil, sehingga berisiko mengalami kerusakan.
“Ketika sudah menatap layar 20 menit, maka pandangan harus dialihkan ke arah lain yang jarak jauh. Itu untuk menyeimbangkan,” jelasnya kepada Kabar Madura, Minggu (14/9/2025).
Selain faktor lingkungan, dr. Edwin juga menyebut, mata minus pada anak dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat mata minus, menurutnya, berpotensi lebih besar mengalami kondisi serupa, terutama jika tidak dibarengi pola hidup sehat.
“Ada anak di bawah 10 tahun sudah minus. Bisa saja itu karena faktor keturunan, misal orang tuanya minus,” tambahnya.
Jika tidak segera ditangani, minus mata dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti kerusakan saraf mata hingga robekan saraf. Karena itu, pemeriksaan sejak awal gejala muncul sangat dianjurkan.
“Ketika mulai ada keluhan pada anak tapi tidak ditangani, mata akan menjadi malas karena sarafnya tidak berkembang,” tegasnya.
Untuk menjaga kesehatan mata, dr. Edwin memberikan beberapa tips, antara lain menghindari paparan sinar matahari yang sangat tinggi secara langsung, serta mengonsumsi vitamin dengan kandungan antioksidan, seperti vitamin A, C, dan D. Menurutnya, sebagian besar penyakit mata berawal dari kerusakan akibat oksidan.
“Ketika mata sudah minus, alternatifnya harus pakai kacamata atau kontak lensa. Bisa juga dilakukan operasi lasik mata, tapi itu harus dilakukan di usia 18 tahun ke atas,” tukasnya. (nur/zul)





