KABAR MADURA | Prosedur pembiusan atau anestesi menjadi bagian penting dalam prosedur operasi. Tindakan itu harus dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, seperti dokter anestesi dengan tujuan untuk membuat pasien tertidur, tidak merasakan nyeri, dan relaksasi selama prosedur operasi berlangsung.
Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan dr. Faiz Muhammad Ammar mengatakan, dokter anestesi tidak hanya berperan dalam proses pembiusan. Namun, juga memastikan kondisi pasien tetap stabil, baik sebelum, saat, ataupun setelah operasi.
“Setelah dibius, observasi kepada pasien terus dilakukan, mulai dari pemantauan tanda vital seperti denyut nadi hingga saturasi oksigen,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).
Disebutkan, terdapat tiga jenis anestesi yang biasa digunakan. Pertama, anestesi umum atau yang biasa disebut bius total. Bisanya, anestesi ini digunakan pada operasi besar. Kedua, anestesi regional atau separuh badan. Umumnya dipakai pada persalinan caesar maupun operasi tulang. Lalu terakhir, anestesi lokal yang digunakan untuk tindakan minor, seperti menjahit luka dan lainnya.
Sebelum dilakukan pembiusan, lanjut dr. Faiz, pasien lebih dulu akan melalui serangkaian pemeriksaan, mulai dari riwayat alergi, obat yang selama ini digunakan, hingga pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti rekam jantung. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar penentuan jenis obat bius yang paling aman digunakan sesuai kondisi pasien.
Meski relatif aman, pembiusan memiliki risiko efek samping, seperti mual, muntah, menggigil, atau tidak nyaman di tenggorokan. Namun, kondisi pasien akan terus dipantau ketat dengan monitor tanda vital, baik selama maupun setelah operasi.
“Tujuan utama anestesi adalah memastikan pasien menjalani operasi dengan aman dan tanpa rasa nyeri. Setelah operasi selesai, pasien tetap berada dalam pengawasan hingga kondisi stabil,” tutupnya. (nur/zul)





