UIN Madura Dorong Pembatik Candi Burung Pamekasan Tingkatkan Pemahaman Akuntansi Biaya untuk Daya Saing Usaha Batik

Pendidikan78 views

KABAR MADURA | Pamekasan – 19 Oktober 2025, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Islam Negeri Madura melaksanakan kegiatan pendampingan partisipatif kepada komunitas pembatik Desa Candi Burung, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, yang dikenal sebagai salah satu sentra batik Madura. Program ini mengusung tema “Peningkatan Modal Intelektual Melalui Pelatihan Akuntansi Biaya Produksi Batik bagi Komunitas Pembatik di Proppo Pamekasan”

Kegiatan ini berangkat dari kondisi riil masyarakat pembatik yang masih melakukan pencatatan usaha secara tradisional dan sederhana. Sebagian besar pembatik hanya mencatat biaya bahan baku tanpa memperhitungkan komponen lain seperti biaya tenaga kerja, transportasi, atau biaya tidak langsung. Padahal, pencatatan biaya yang lengkap sangat menentukan akurasi penetapan harga pokok produksi (HPP) dan keberlanjutan usaha.

Temuan Lapangan: Harga Pokok Produksi Belum Memperhitungkan Tenaga Kerja

Hasil pendampingan menunjukkan bahwa dalam penetapan harga pokok produksi, sebagian besar pembatik belum memperhitungkan biaya tenaga kerja, khususnya bagi pembatik yang bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka beralasan bahwa jika biaya tenaga kerja pribadi dimasukkan, harga jual batik akan menjadi lebih tinggi dan sulit bersaing di pasar.

Baca Juga:  Temu Wali Santri sebagai Kontrak Sosial-Spiritual Pendidikan: Sinergi Guru, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Membentuk Generasi

Namun, kondisi berbeda terjadi pada pembatik yang memiliki pesanan dalam jumlah besar. Ketika beban kerja meningkat dan memerlukan bantuan tenaga tambahan di luar keluarga, mereka mulai memasukkan biaya tenaga kerja dalam perhitungan harga pokok produksi.

“Kalau saya mengerjakan sendiri, tidak saya hitung upahnya, takut batiknya jadi mahal. Tapi kalau pesanan banyak dan harus dibantu orang lain, baru saya tambahkan biayanya,” ungkap salah satu pembatik dalam wawancara dengan tim pengabdian.

Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi pembatik terhadap pencatatan biaya masih sederhana, cenderung hanya menghitung biaya bahan dasar seperti kain, malam, dan pewarna. Akibatnya, pembatik sering kali tidak mengetahui keuntungan riil dari setiap produk yang dihasilkan.

Pelatihan Akuntansi Biaya untuk Penguatan Kapasitas Usaha

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim UIN Madura memberikan pelatihan akuntansi biaya dengan metode ABCD (Asset-Based Community Development), yaitu pendekatan yang berfokus pada potensi dan aset yang telah dimiliki masyarakat. Melalui pendekatan partisipatif, pembatik diajak mengenali aset diri, sosial, dan ekonomi yang dapat dikembangkan, serta mempraktikkan pencatatan biaya produksi secara sederhana namun akurat.

Baca Juga:  Strategi Memaksa untuk Mengingat melalui Takbir Kolektif: Refleksi Kultural IBS PKMKK dalam Menumbuhkan Kesadaran Spiritual

Pelatihan meliputi pengenalan komponen biaya produksi (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya tidak langsung), perhitungan harga pokok produksi (HPP), dan penentuan harga jual yang realistis dan kompetitif. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta.

Sinergi untuk Kemandirian Pembatik Lokal

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dan perguruan tinggi untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro di daerah. Menurut tim pengabdian dosen dan mahasiswa ( Dr. Sri Handayani, MM dan Safarin Maulani ), pemberdayaan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis membatik, tetapi juga pada peningkatan literasi keuangan dan akuntansi sebagai bagian dari modal intelektual masyarakat.

“Ketika pembatik mampu mencatat biaya secara lengkap dan memahami nilai kerja mereka sendiri, mereka tidak hanya menjadi pengrajin, tetapi juga menjadi manajer bagi usahanya sendiri,” jelas ketua tim pengabdian UIN Madura.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para pembatik Madura dapat memiliki kesadaran baru untuk menghargai hasil kerja mereka secara wajar, menetapkan harga secara tepat, dan menjaga keberlanjutan usaha batik Madura sebagai warisan budaya sekaligus sumber ekonomi keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *