Santri dan Birokrasi dalam Satu Nafas: Bedah Buku “Intelektual Aktivis, Santri Birokrat”

News113 views

KABAR MADURA | Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Pusat bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep menggelar kegiatan Bedah Buku “Intelektual Aktivis, Santri Birokrat”, yang menghadirkan berbagai narasumber inspiratif dan tokoh alumni pesantren.

Ketua panitia Syaiful Anam menjelaskan, acara ini merupakan bagian dari upaya IAA dalam memperkuat tradisi intelektual di kalangan alumni pesantren serta mendorong semangat santri untuk berkiprah lebih luas di ruang publik.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menegaskan bahwa santri tidak hanya berperan di dunia keagamaan, tetapi juga dapat menjadi motor perubahan di berbagai bidang, termasuk birokrasi dan sosial kemasyarakatan,” ujar Syaiful Anam.

Salah seorang figur yang menjadi sorotan dalam bedah buku ini adalah seorang santri yang kini memimpin Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, dikenal sebagai sosok penuh semangat dan kreativitas. Ia merupakan contoh nyata dari pemimpin yang berintegritas, berilmu, dan berakhlak mulia.

Baca Juga:  IHSAN Hadir di Sumenep, Jadi Wadah Besar Alumni Pesantren

Perjalanan hidupnya mencerminkan perpaduan harmonis antara dunia pesantren, aktivisme, dan birokrasi. Sejak di pondok, ia telah menunjukkan potensi kepemimpinan dan kecintaan terhadap ilmu.

Saat menempuh pendidikan tinggi, ia aktif sebagai aktivis kampus yang kritis terhadap isu-isu sosial dan kebijakan publik, serta menyalurkan gagasannya melalui dunia jurnalistik mahasiswa.

“Komitmen sosialnya tak pernah pudar. Ia dikenal selalu siap membantu dan mendukung masyarakat yang membutuhkan, mencerminkan nilai-nilai Islam tentang kepedulian dan solidaritas sosial. Dengan pemikiran kritis dan empati yang kuat, ia terus memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi sesama,” paparnya.

Baca Juga:  Hadirkan Puspenma Kemenag, UIN Madura Bidik Hibah Riset MoRA The Air Funds 2026

Kini, dalam kapasitasnya sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, ia membawa semangat intelektual dan aktivisme ke dalam dunia birokrasi. Latar belakangnya sebagai santri dan aktivis membentuk gaya kepemimpinan yang visioner — berorientasi pada peningkatan layanan publik, penguatan moderasi beragama, dan pembangunan harmoni antarumat.

“Sosok ini menjadi inspirasi bagi banyak kalangan, terutama generasi muda pesantren. Ia membuktikan bahwa dengan iman, ilmu, dan aksi nyata, seorang santri dapat menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan bagi umat dan bangsa,” pungkasnya. (ong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *