KABAR MADURA | Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Madura melaksanakan kegiatan Perkuliahan Luar Kelas (PLK) yang inovatif dengan tema “The Critical Eye: Mastering the Art of Movie Review.”
Kegiatan ini melibatkan 60 mahasiswa TBI semester 5 yang sedang memprogram mata kuliah Writing 3 dan Reading 3 dalam sebuah siklus pembelajaran kritis, mulai dari analisis film hingga revisi teks kolegial.
Membaca Teks Visual, Menulis Review Kritis
Dosen pengampu mata kuliah Writing 3, Siti Azizah menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjembatani teori dan praktik literasi.
“Kita sering melihat film sebagai hiburan, namun bagi mahasiswa Writing 3 dan Reading 3, film adalah ‘teks visual’ yang kompleks dan kaya akan makna,” ujar Siti Azizah, M.Pd.
“Melalui Field Study ini, mahasiswa didorong untuk mengaplikasikan Critical Reading mereka—bukan sekadar menikmati alur cerita, tetapi membedah struktur naratif sebuah film.”
Kegiatan ini merupakan kolaborasi erat dua mata kuliah, di mana mahasiswa diminta untuk 1) Observasi Kritis: Menganalisis film secara aktif di bioskop, mencatat bukti-bukti visual (adegan kunci, dialog) untuk mendukung reviu mereka, 2) Produksi Teks: Menyusun Movie Review yang argumentatif dan terstruktur, dengan Thesis Statement yang jelas dan didukung bukti yang kuat (Fase Writing).
Peer Review sebagai Inti Pembelajaran Kolaboratif
Aspek unik dari kegiatan ini adalah penekanan pada Peer Review sebagai komponen utama Reading. Setelah menulis draf ulasan, mahasiswa bertukar karya dan bertindak sebagai asesor sejawat.
Fithriyah Rahmawati, M.Pd, dosen pengampu Reading 3 menjelaskan, “Fase Peer Review melatih mahasiswa menjadi Critical Reader. Mereka tidak hanya menulis, tetapi juga membaca dan mengevaluasi kelemahan dan kekuatan argumen teman mereka, yang pada akhirnya akan mereka gunakan untuk merevisi (Rewriting) tulisan mereka sendiri. Ini adalah siklus kritis yang sangat diperlukan di dunia akademis dan profesional.”
Diharapkan, melalui kegiatan PLK ini, mahasiswa Prodi TBI UIN Madura tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan menulis, tetapi juga menjadi pembelajar yang adaptif dan mampu menganalisis berbagai bentuk wacana di era modern.
Mahasiswa menyambut baik kegiatan PLK yang mengubah lokasi belajar dari ruang kelas ke auditorium bioskop. Mereka merasa metode ini membuat materi perkuliahan menjadi lebih relevan dan menyenangkan.
“Biasanya kalau di kelas kita nulis dan baca esai atau teks, tapi ini kita harus ‘membaca’ film dan mereviunya. Rasanya seperti dibekali kacamata baru. Kami senang bisa belajar di luar kelas seperti ini” kata Nadwa, mahasiswa.
Sementara itu, Elok, mahasiswa, menyoroti pentingnya proses peer review yang melatih keterampilan reading mereka:
“Bagian peer review itu paling menantang. Kita harus mengkritik tulisan teman secara konstruktif dan menerima kritik untuk rewrite,” tegasnya. (rul/zul)






