Oleh: Aliyansah (Ketua PAC IPNU Pasean & Penulis Buku Perjalanan HahaHihi)
KABAR MADURA | Beberapa tahun lalu, seseorang harus meluangkan waktu membaca koran, menyimak berita hingga selesai, atau berdiskusi cukup panjang untuk memahami sebuah persoalan. Hari ini, hanya dengan melihat judul berita, potongan video berdurasi beberapa detik, atau unggahan singkat di media sosial, banyak orang merasa telah mengetahui segalanya. Perubahan kebiasaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang lebih besar: semakin menguatnya budaya instan yang perlahan menggeser tradisi berpikir mendalam.
Perkembangan teknologi digital memang membawa banyak kemudahan. Informasi dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Jarak tidak lagi menjadi hambatan untuk berkomunikasi. Berbagai kebutuhan hidup bahkan dapat diselesaikan hanya melalui telepon genggam. Namun di balik kemudahan tersebut, masyarakat tanpa sadar sedang hidup dalam budaya yang menjadikan kecepatan sebagai ukuran utama.
Fenomena ini semakin terlihat seiring meningkatnya penggunaan internet di Indonesia. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai 80,66 persen atau sekitar 229 juta pengguna dari total populasi Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kehidupan masyarakat kini terhubung dengan ruang digital.
Tingginya penggunaan internet tentu menjadi pertanda positif bagi kemajuan teknologi dan akses informasi. Namun pada saat yang sama, derasnya arus informasi juga melahirkan pola konsumsi yang serba cepat. Informasi datang silih berganti tanpa jeda. Seseorang dapat berpindah dari satu topik ke topik lain hanya dalam hitungan detik. Akibatnya, banyak orang lebih terbiasa menerima informasi secara singkat daripada memahaminya secara mendalam.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit masyarakat yang hanya membaca judul berita tanpa menelaah isi keseluruhannya. Potongan video pendek sering dijadikan dasar untuk menyimpulkan persoalan yang sebenarnya kompleks. Bahkan dalam banyak kasus, informasi langsung disebarkan tanpa proses verifikasi yang memadai. Kecepatan akhirnya lebih dihargai dibanding ketepatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya instan tidak lagi sekadar soal kemudahan teknologi, melainkan telah memengaruhi cara berpikir masyarakat. Ketika seseorang terbiasa memperoleh jawaban secara cepat, kemampuan untuk merenung, menganalisis, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang perlahan mengalami penurunan. Padahal, tidak semua persoalan dapat dipahami dalam waktu singkat.
Filsuf Prancis, Paul Virilio, pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern hidup dalam dominasi kecepatan. Dalam situasi seperti itu, manusia berisiko kehilangan ruang untuk berpikir secara reflektif. Segala sesuatu bergerak begitu cepat hingga proses memahami realitas sering kali tertinggal di belakangnya.
Dampak budaya instan juga dapat dilihat dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi seharusnya memperluas kesempatan belajar. Akan tetapi, dalam praktiknya, tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang lebih tertarik mencari jawaban cepat dibanding memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut. Tugas diselesaikan secara instan, informasi dicari secara ringkas, sementara proses membaca dan mendalami suatu persoalan semakin jarang dilakukan.
Padahal, kualitas sumber daya manusia tidak dibentuk melalui jalan pintas. Pengetahuan yang kuat lahir dari proses membaca, berdiskusi, menulis, dan berpikir secara berkelanjutan. Kemampuan berpikir kritis tidak muncul dalam semalam. Semua membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Ketika budaya instan semakin mendominasi, maka yang terancam bukan hanya kualitas pengetahuan, tetapi juga kualitas cara berpikir masyarakat itu sendiri.
Dalam konteks generasi muda Madura, tantangan ini menjadi semakin relevan. Akses teknologi yang semakin luas membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan literasi masyarakat. Namun peluang tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila diiringi kemampuan untuk menyaring dan memahami informasi secara kritis. Tanpa kemampuan tersebut, teknologi justru berpotensi menjadikan masyarakat sebagai konsumen informasi yang pasif.
Budaya instan juga memengaruhi cara pandang terhadap kesuksesan. Media sosial sering menampilkan hasil akhir dari sebuah pencapaian tanpa memperlihatkan proses panjang di belakangnya. Banyak anak muda akhirnya melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang dapat diraih secara cepat. Padahal, hampir semua pencapaian besar lahir dari perjalanan yang penuh perjuangan, kegagalan, dan konsistensi.
Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah penolakan terhadap teknologi. Teknologi adalah bagian penting dari perkembangan zaman. Yang perlu dibangun adalah kesadaran untuk menggunakan teknologi secara bijaksana. Kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kebiasaan membaca yang lebih mendalam. Kecepatan akses harus dibarengi kemampuan memverifikasi kebenaran informasi. Kemajuan teknologi seharusnya memperkuat kualitas berpikir manusia, bukan justru melemahkannya.
Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, media, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya literasi yang sehat. Literasi tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi secara kritis, membedakan fakta dan opini, serta mengambil keputusan secara rasional.
Pada akhirnya, tantangan terbesar era digital bukanlah kurangnya informasi, melainkan melimpahnya informasi yang tidak selalu diiringi dengan kedalaman berpikir. Kita boleh hidup di zaman yang serba cepat, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk merenung dan memahami sesuatu secara utuh. Sebab masa depan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang paling cepat menerima informasi, melainkan oleh mereka yang paling bijak dalam memaknainya.





