KABAR MADURA | Ratusan nelayan Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, kembali menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di laut pada Rabu (12/11/2025). Mereka menolak keras rencana eksplorasi dan penambangan minyak dan gas (migas) di wilayah perairan tempat mereka mencari nafkah.
Aksi yang dipusatkan di perairan Takat Noko, dekat Desa Angkatan dan Desa Kalisangka, menjadi bentuk perlawanan keempat kalinya terhadap aktivitas survei seismik yang dilakukan di kawasan Kangean Barat oleh perusahaan migas PT Kangean Energy Indonesia (KEI).
Nelayan berbondong-bondong turun ke laut dengan perahu tradisional, mengibarkan bendera merah putih dan spanduk bertuliskan penolakan terhadap proyek migas yang mereka sebut sebagai ancaman bagi ruang hidup dan masa depan generasi pesisir.
“Kami sudah berkali-kali menolak, tapi aktivitas survei dan rencana tambang migas terus jalan. Kami hidup dari laut ini, bukan dari janji-janji perusahaan,” tegas Ahmad Yani selaku koordinator aksi.
Para nelayan menilai aktivitas eksplorasi migas berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem laut, menurunkan hasil tangkapan ikan, dan mengganggu keseimbangan ekologi di kawasan perairan dangkal.
Mereka menegaskan bahwa laut Kangean adalah sumber kehidupan utama ribuan keluarga nelayan, bukan sekadar lahan ekonomi untuk kepentingan korporasi.
“Kalau laut rusak, kami mau makan apa? Pemerintah harusnya melindungi rakyat kecil, bukan justru memberi karpet merah bagi perusahaan besar,” lanjut Yani.
Dalam aksi yang dikawal aparat keamanan laut itu, para nelayan menyampaikan tujuh tuntutan utama, yang menegaskan sikap tegas masyarakat pesisir terhadap proyek migas di antaranya hentikan seluruh rencana tambang migas di laut dan darat Kepulauan Kangean dan lindungi lingkungan dan hak masyarakat lokal sesuai amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Beserta mendesak Syahbandar Kangean untuk tidak memberi izin berlabuh bagi kapal survei seismik, tuntut tanggung jawab sosial perusahaan atas keresahan warga, minta Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menghentikan kegiatan kapal seismik 3D, dorong Menteri Kelautan dan Perikanan mengaudit PT KEI atas rencana eksplorasi di kawasan pulau kecil dan mesak Menteri ESDM memerintahkan penghentian seluruh aktivitas eksplorasi migas di perairan dangkal Kangean.
Usai aksi, nelayan dan nahkoda kapal seismik dikabarkan sempat mencapai kesepakatan sementara. Kapal dijadwalkan keluar dari perairan Kangean pada pukul 15.00 WIB, Rabu sore. Namun hingga sore hari, para nelayan masih bersiaga di pesisir sambil memastikan janji itu benar-benar ditepati.
“Kalau kapal tidak bergerak sampai waktu yang disepakati, kami akan mendatangi lagi. Jangan permainkan nasib kami,” ujar Yani menegaskan.
Menurut pantauan lapangan, solidaritas masyarakat pesisir semakin kuat. Warga dari berbagai desa ikut bergabung, menandakan bahwa penolakan terhadap eksplorasi migas bukan sekadar aksi sesaat, melainkan gerakan moral mempertahankan ruang hidup.
“Dulu juga dibilang cuma survei. Tapi kami tahu, survei itu awal dari penambangan. Sekali laut kami dijadikan tambang, selamanya rusak,” kata salah satu nelayan senior dari Desa Kalisangka.
Aksi nelayan Kangean ini mempertegas pesan yang selama ini diabaikan pemerintah: pembangunan energi nasional tidak boleh mengorbankan ekosistem laut dan kehidupan rakyat kecil.
Kangean bukan sekadar titik di peta eksplorasi, tetapi rumah bagi ribuan nelayan yang telah menjaga laut selama turun-temurun.
“Laut kami bukan ladang tambang. Ini sumber kehidupan kami,” seru para nelayan serempak dari atas perahu mereka, di tengah debur ombak Kangean.
Sementara itu, pihak perusahaan, melalui PGA Manager PT KEI, Kampoi Naibaho, sebelumnya menyebut survei seismik hanyalah pemetaan geologi bawah laut dan bukan kegiatan pengeboran. Namun bagi warga, penjelasan itu tak lagi meyakinkan.
“Survei seismik bukanlah kegiatan pengeboran atau eksploitasi. Ini murni pemetaan bawah permukaan laut untuk mengetahui struktur geologinya,” ujar PGA Manager KEI, Kampoy Naibahu pada suatu forum. (ara/waw)





