Harga Minyakita Naik di Pamekasan Tembus Rp27 Ribu meski HET tetap Rp14.500

Ekonomi14 views

KABAR MADURA | Stabilitas harga sejumlah komoditas di tingkat pedagang pasar tradisional di Madura mulai merangkak naik, salah satunya harga Minyakita. Kenaikan harga tersebut juga mencakup bahan kemasan plastik, tepung kanji, air kemasan.

Rifandi, salah seorang pedagang asal Kelurahan Kowel, mengeluhkan lonjakan harga barang dagangannya yang terjadi selama sebulan terakhir. Termasuk minyak goreng bersubsidi, yang seharusnya harganya bisa dikendalikan. Selain itu, kenaikan yang paling dirasakan ialah produk berbahan dasar plastik.

“Sekarang yang baru naik ini bahan plastik, itu melonjak bukan naik lagi. Awalnya kayak tas plastik untuk timbangan itu Rp17.000, sekarang jadi Rp26.000 per ikat. Minyakita juga sekarang tembus Rp22.000 sampai Rp27.000, padahal awalnya Rp17.000,” ujarnya, Senin (22/6/2026).

Selain plastik dan minyak, Rifandi juga mengatakan bahwa harga tepung kanji ikut naik dari harga Rp6.000 menjadi Rp8.500 per kilogram, kemudian air kemasan juga ikut naik, dari Rp14.000 menjadi Rp19.000.

Dari seluruh bahan pokok, dia juga mengatakan bahwa hanya harga telur yang terpantau masih memiliki harga normal. Rifandi berharap kepada pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut, agar daya beli masyarakat kembali meningkat.

“Kalau bisa, disubsidi semua bahan bahan pokok, biar daya beli warga makin memikat,” tambahnya.

Merespons keluhan pedagang, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Abdurrahman Nahrul, melalui Analis Perdagangan Ahli Pertama, Riva Silviani, memberikan klarifikasi.

Terkait peta rambatan harga tersebut, Riva menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar memang memberikan dampak langsung, terutama pada komoditas yang ketergantungan impornya tinggi.

“Indonesia belum bisa memproduksi bawang putih secara masif, lebih dari 90% kita impor dari China. Otomatis harganya naik dari kisaran Rp30.000 menjadi Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram akibat dolar menguat,” jelasnya.

Hal yang sama juga terjadi pada industri plastik, di mana mayoritas bahan baku bijih plastik masih harus didatangkan dari luar negeri.

Menyikapi lonjakan harga Minyakita yang dilaporkan pedagang hingga menembus angka Rp22.000 sampai Rp27.000, Riva menegaskan bahwa pemerintah sama sekali belum mengubah regulasi harga eceran tertinggi (HET).

Baca Juga:  Warga Keluhkan Harga Minyak Naik dan Gas Elpiji Langka, Diskop Umdag Bangkalan Klaim Stabil

Secara resmi, harga Minyakita tersebut di tingkat distributor seperti Bulog dan ID Food masih dipatok Rp14.500 per liter, dengan HET di konsumen akhir sebesar Rp15.700 per liter.

“Sebenarnya Minyakita belum ada kenaikan harga secara resmi, baik dari produsen maupun distributor. Harganya memang diduga digoreng menjadi tinggi di luar distributor resmi saat ada isu dolar naik, padahal produksi minyak kita bisa mandiri,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi permainan harga yang kian liar di pasar retail, Disperindag Pamekasan akan segera menerjunkan tim pemantau ke lapangan dalam waktu dekat.

“Besok (hari ini, 23/6/26) saya akan minta teman teman pasar untuk cek ulang di lapangan bagaimana kondisi sebenarnya, apa penyebab pastinya, karena dari jalur distributor resmi harganya tetap stabil,” pungkasnya. (km96/waw)

 

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *