KABAR MADURA | Menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dunia pertanian saat ini. Kondisi ini terlihat dari dominasi petani yang mayoritas berusia di atas 40 tahun, dengan persentase mencapai hampir 80 persen.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Koordinator Pangan dan Agribisnis, Widi Astuti, saat menghadiri kegiatan Rembuk Tani di Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan, Selasa (23/6/2026). Menurutnya, persoalan regenerasi petani harus dihadapi dengan menghadirkan solusi yang sesuai dengan karakteristik dan pola pikir generasi muda saat ini.
Widi menjelaskan, pemuda saat ini tidak hanya memandang pekerjaan sebagai profesi semata. Mereka juga mempertimbangkan nilai, pengakuan, dan daya tarik dari profesi yang dijalani, termasuk di sektor pertanian.
“Pemuda sekarang, saat ini mengambil sisi praktis jadi memang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Dia menilai, jika sistem pertanian tetap berjalan secara stagnan dan hanya mengandalkan metode tradisional, maka akan sulit menarik minat generasi muda untuk terlibat langsung dalam pengelolaan lahan pertanian.
Oleh karena itu, menurutnya, perlu ada perubahan sistem yang mampu menjawab harapan generasi muda, terutama terkait prospek dan keuntungan yang dapat diperoleh dari sektor pertanian.
“Ada tiga hal, yaitu pertama prestise atau rasa bangga atas pekerjaan, termasuk dalam bidang pertanian, dan kedua profit atau keuntungan yang didapat,” sebutnya.
Selain prestise dan keuntungan, faktor ketiga yang dinilai penting adalah penyesuaian terhadap perkembangan teknologi. Widi menyebut, generasi muda cenderung lebih tertarik pada sistem kerja yang memanfaatkan teknologi dan inovasi modern.
“Nah, disana lah kita masuk bagaimana mengembangkan teknologi untuk menarik generasi muda untuk bisa ikut berkiprah di dunia pertanian, misalnya dengan pemanfaatan drone,” pungkasnya. (fik/zul)





