Awal Tahun 2025, Sampang Dilanda 37 Bencana Alam

News281 views

KABAR MADURA | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang mencatat sebanyak 37 kejadian bencana alam telah terjadi di berbagai wilayah di daerahnya. Kejadian bencana itu, terjadi sejak Januari hingga Mei 2025. Bencana alam tersebut didominasi oleh jalan rusak dan pohon tumbang yang diakibatkan cuaca ekstrem.

Kepala BPBD Sampang Candra Ramadhani Amin mengatakan, cuaca ekstrem masih menjadi pemicu utama terjadinya bencana pada awal tahun ini. “Curah hujan yang tinggi, terutama di wilayah rawan bencana, bertebing, atau di sekitar sungai berpotensi banjir dan tanah longsor,” katanya, Selasa (6/5/2025).

Candra menjelaskan, rekapitulasi kejadian bencana alam dan kerusakan infrastruktur pada Januari hingga Mei 2025, yakni tebing longsor tercatat sebanyak tujuh kali. Satu kejadian pada Februari, dan pada Maret, April, serta Mei, masing-masing dua kejadian.

Selain itu, kerusakan jembatan terjadi pada Januari sebanyak tiga kasus, dan empat kasus pada Februari. Kerusakan jalan tercatat sebanyak delapan kejadian. Dua kejadian pada Januari, dua kasus pada Maret, tiga peristiwa pada April, dan satu kejadian pada Mei.

Sedangkan untuk bencana banjir, terjadi dua kali sepanjang periode tersebut. Seluruhnya terjadi pada Maret lalu. Untuk angin kencang terjadi dua kali, masing-masing satu kejadian pada Maret dan April. Dan kerusakan tangkis laut tercatat sebanyak tiga kejadian, seluruhnya terjadi pada Januari. 

Sementara untuk pohon tumbang, menjadi kejadian yang cukup dominan dengan delapan laporan. Tiga kejadian pada Januari, empat peristiwa pada Februari, dan satu kejadian pada Mei.

Untuk itu, pihaknya menekankan agar masyarakat untuk mengantisipasi bencana yang terkadang datang tak diundang. Selalu menjaga lingkungan dan pentingnya dalam penanganan bencana secara preventif. 

“Salah satu langkah yang perlu segera digalakkan kembali adalah penanaman pohon, terutama di daerah rawan longsor dan banjir,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Candra mengingatkan agar pembangunan jalan maupun bangunan dilakukan dengan memperhatikan lokasi serta spesifikasi teknis yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. Hal itu sangat penting untuk mencegah risiko bencana akibat konstruksi yang tidak tepat.

Selain itu, aktivitas pengambilan pasir laut juga tidak boleh dilakukan kembali, karena dapat merusak ekosistem dan memperparah risiko bencana seperti abrasi dan lainnya.

Baca Juga:  Belum Punya Gedung Permanen, Siswa Baru Sekolah Rakyat Pamekasan Dipindah ke Sampang

Dia berharap dengan langkah-langkah tersebut, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menjaga lingkungan demi mengurangi dampak bencana di masa mendatang.

Bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana, agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau informasi cuaca dari BMKG. “Pada awal tahun ini menjadi pengingat penting bahwa kita harus siap menghadapi potensi bencana kapan saja,” tandasnya. (km90/sub/din)

Grafik

Bencana Alam Januari hingga Awal Mei 2025: 37 Kejadian

Pemicu: Cuaca ekstrem

 Tebing Longsor 

– Februari: 1 kejadian

– Maret: 2 kejadian

– April: 2 kejadian

– Mei: 2 kejadian

Jembatan Rusak

– Januari: 3 kejadian

– Februari: 4 kejadian

Jalan Rusak

– Januari: 2 kejadian

– Maret: 2 kejadian

– April: 3 kejadian

– Mei: 1 kejadian

Banjir 

– Maret: 2 kali kejadian

Angin Kencang 

– Maret: 1 kejadian

– April: 1 kejadian

Tangkis Laut Rusak

– Januari : 3 kejadian

Pohon Tumbang

– Januari: 3 kejadian

– Februari: 4 kejadian

– Mei: 1 kejadian

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *