KABAR MADURA | Persoalan sampah tidak hentinya menjadi perbincangan hangat di forum terbuka. Begitupun saat perbincangan Kabar Madura dengan salah satu pemuda yang memiliki segudang inovasi dalam pengelolaan sampah. Dia adalah Briandiko Putra Sansk Susanto, inovator di dunia persampahan. Melalui pemikiran inovatifnya, Brian berhasil membuat sampah menjadi pajangan indah yang cocok di segala tempat, mulai dari kantor hingga ke rumah mewah.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Pria kelahiran 2004 itu menjadi pelopor dalam pengelolaan sampah di lingkungannya. Brian kerap kali memunculkan ide-ide kreatif untuk memanfaatkan sampah residu. Bagi Brian, tidak ada sampah yang tidak bisa diolah. Semua jenis sampah bisa diolah dan dimanfaatkan sedemikian rupa. Terlebih, referensi untuk pengelolaan sampah dewasa ini cukup menjamur.
“Sampah residu seperti popok, bisa dijadikan pot. Apalagi sampah plastik, sangat bisa dikreasikan, bahkan berpotensi menghasilkan pemasukan (uang),” tuturnya, (20/6/2024).
Mahasiswa semester IV IAIN Madura itu mengungkapkan, melalui sampah plastik, dirinya berinovasi untuk membuat beberapa miniatur. Salah satunya seperti miniatur Monumen Arek Lancor yang dipersembahkan untuk berakhirnya masa pemerintahan Bupati Baddrut Tamam. Beberapa karya lainnya pun mendapat pesanan dari beberapa daerah. Tidak hanya itu, ide kreatifnya tersebut juga menghasilkan beberapa karya yang sarat akan manfaat, di antaranya seperti pot bunga dari sampah residu.
“Kalau idenya memang dari saya, tapi untuk eksekusinya, kami kerjakan bersama-sama dengan anggota TPS3R lainnya juga,” ungkap pria yang beralamat di Jalan Trunojoyo Gang VII itu.
Brian menceritakan, awal mula dirinya bisa aktif dalam pengelolaan sampah. Saat itu, pada 2022, dia merasa aneh dengan Kawasan TPS3R yang tampak kumuh. Menurutnya, penampakan pengelolaan sampah sementara itu bisa tampak lebih baik. Sehingga, muncul ide-ide kreatif untuk perwajahan TPS3R itu serta pengelolaannya.
Saat ini, project terbarunya akan membuat TPS3R di kawasannya menjadi eduwisata. Sehingga, tempat itu tidak hanya menjadi pengelolaan sampah sementara, namun juga menjadi tempat belajar mengenai persampahan yang menyenangkan.
“Selain itu, saya kepikiran untuk memanfaatkan sampah pasar menjadi pakan maggot. Peluangnya cukup besar saya rasa. Tapi, semuanya tergantung dari pendanaan juga,” tutupnya.
Redaktur: Sule Sulaiman





