KABAR MADURA | Dua balita di Pamekasan dilaporkan meninggal dunia dengan dugaan suspek campak. Korban pertama merupakan rujukan dari Puskesmas Pasean berusia 4 tahun, sedangkan korban kedua berasal dari Puskesmas Panaguan berusia 6 bulan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Avira Sulistyowati menjelaskan, dalam dua hari terakhir kasus suspek campak di Kota Gerbang Salam mengalami peningkatan signifikan.
Per Senin (25/8/2025), jumlah suspek tercatat 261 orang dengan 123 kasus positif. Dua hari kemudian, Rabu (27/8/2025), angkanya naik menjadi 288 suspek. Lalu, per Kamis (28/8/2025), jumlahnya tetap 288 suspek dengan kasus positif bertambah menjadi 144 orang.
Menurut Avira, tingginya kasus campak ini dipengaruhi oleh rendahnya cakupan vaksinasi di masyarakat.
“70 persen dari yang suspek ini ditengarai tidak divaksin atau tidak diimunisasi. Padahal, penyebarannya dari udara. Jadi mereka tidak memiliki kekebalan campak,” jelasnya, Kamis (28/8/2025).
Sebagai langkah pencegahan, lanjut Avira, pihaknya memperkuat respons di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun klinik, agar lebih sigap dalam menangani kasus campak. Selain itu, Dinkes juga menggelar imunisasi massal di sejumlah wilayah.
Dia berharap masyarakat lebih waspada dan bersedia mengikuti vaksinasi atau imunisasi. Avira juga mengimbau agar masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala campak. Hal itu penting untuk mencegah kondisi semakin memburuk.
“Sebagian masyarakat memang menyepelekan vaksin atau imunisasi campak. Jadi butuh upaya untuk meyakinkan mereka melalui sosialisasi dengan melibatkan lintas sektor,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Halili menilai, meninggalnya dua balita akibat suspek campak harus menjadi perhatian serius. Menurutnya, Dinkes harus segera mengambil langkah preventif untuk mencegah penyebaran lebih luas. Dia mengingatkan, jika tidak segera dilakukan penanganan massif, potensi status kejadian luar biasa (KLB) bisa saja terjadi.
“Masyarakat perlu diberi pencerahan, kenapa campak ini bisa terjadi. Hal ini juga menjadi atensi Komisi IV,” terangnya. (nur/zul)





