KABARMADURA.ID | SUMENEP -Sebagai langkah untuk mengantisipasi terjadinya penurunan inflasi perlu adanya operasi pasar. Langkah tersebut sudah dilaksanakan. Bahkan memastikan stok pangan tetap aman di setiap daerah maupun kepulauan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten (SekdaKab) Sumenep Dadang Dedy Iskandar, Rabu (11/1/2023).
Dia mengaku, selain mengupayakan stok pangan aman, juga akan menggelar pelatihan. Sehingga mental masyarakat tidak selalu konsumtif. Akan tetapi lebih produktif, baik dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan bidang lainnya. Bahkan di bulan Agustus kemarin, terjadi inflasi tahunan (y-on-y) sebesar 4,72 persen.
Kondisi ini mengakibatkan terjadinya kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 112,06 pada Agustus 2022 menjadi 117,35 pada Agustus tahun ini. “Sedangkan bulan ini sudah mengalami penurunan yakni 4,47 persen, sehingga kami anggap itu masih aman-aman saja,” ucapnya.
Sekadar diketahui, laju inflasi ini menempatkan Kabupaten Sumenep berada pada posisi tertinggi tingkat Jawa Timur (Jatim) dengan angka inflasi 0,11 persen. Capaian tersebut melampaui Nasional dengan inflasi 0,13 persen.
Hal itu, berdasarkan perkembangan IHK.
“Sedangkan, inflasi terendah di tingkat Jatim terjadi di Kota Madiun sebesar 0,02 persen dengan inflasi y-to-y sebesar 3,16 persen dengan IHK sebesar 113,87,” jelasnya.
Sementata itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumenep Hairul Anwar mengatakan, untuk program tersebut sebenarnya bukan cara yang ampuh. Hal ini bisa diketahui dari kondisi di lapangan. Faktanya, yang dibutuhkan program jangka panjang.
“Jadi saran saya tetap harus menyediakan gudang penyangga, dan itu tidak hanya berfungsi sebagai stok kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai upaya untuk menstabilkan harga, teruma ketika ada ancaman kenaikan barang atau bahan pokok,” sarannya.
Pewarta: Moh. Razin
Redaktur: Totok Iswanto





