KABAR MADURA | Dari 82 sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta maupun negeri yang berhak mengajukan masuk program SMK pusat keunggulan (PK), hanya satu yang berhasil masuk program tersebut.
Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep Budi Sulistyo mengatakan, tertolaknya sekolah itu karena masih banyak tidak penuhi persyaratan, rata-rata fasilitasnya tidak lengkap.
“Jadi, SMK di Sumenep itu hanya satu sekolah yang masuk program SMK PK itu, SMKN 1 Kalianget,” katanya, Selasa (6/2/2024).
Terdapat beberapa syarat untuk menjadi SMK PK, di antaranya menyediakan tenaga pendidik yang berkualitas dan profesional, menyeleksi calon siswa dengan ketat dan penuh pertimbangan, menyediakan fasilitas yang lengkap, dan memiliki visi dan misi yang jelas.
Dilansir dari laman Kemendikbud.go.id, SMK PK merupakan program pengembangan SMK dengan kompetensi keahlian tertentu dalam peningkatan kualitas dan kinerja. Terdapat empat prioritas dalam program tersebut, yakni ekonomi kreatif, pemesinan dan konstruksi, care services, hospitality, dan prioritas lain (kerja sama luar negeri).
Untuk menerapkannya, guru diberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan berbasis dunia usaha dan industri (DUDI). Pelatihan ini berguna untuk memastikan kompetensi guru kejuruan meningkat sesuai standar DUDI.
Nantinya, kata Budi, dapat diperkuat melalui kemitraan dan penyelarasan dengan dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, yang akhirnya menjadi SMK rujukan yang dapat berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sedangkan 82 SMK swasta dan negeri di Sumenep ada itu di antaranya 3 SMK negeri, dengan 2.238 siswa. Kemudian 79 SMK swasta, dengan 6.913 siswa.
“Nantinya sebanyak 81 sekolah SMK itu dapat mencontoh SMKN 1 Kalianget, agar juga terpilih jadi SMK PK. Diharapkan tahun depan diperbaiki,” kata mantan dosen Universitas Madura (Unira) itu.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





