Pendapatan PT WUS Merosot, Tidak Mampu Setor Dividen

News342 views

KABAR MADURA | Salah satu pendapatan terbesar PT Wira Usaha Sumekar (WUS) yang selama ini diperoleh dari dana participating interest (PI) perusahaan minyak dan gas bumi (migas) Medco, tahun ini merosot.

Direktur Operasional PT WUS Zainul Ubbadi mengatakan, pendapatan dari PI tersebut setiap tahunnya menyusut. Kondisi itu berdampak pada PT WUS yang tidak bisa menyetor dividen ke pemegang saham.

Menyusutnya PI yang diperoleh perusahaan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep itu senilai Rp134.963.653 di tahun 2023 lalu.

“Perolehan yang 2023 lalu seharusnya dividennya diberikan tahun ini. Tapi kami tidak bisa bagikan karena dana yang masuk hanya cukup untuk biaya operasional,” katanya.

Angka tersebut sangat merosot dibandingkan tahun 2019 lalu, yang mencapai Rp10.197.872.285.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Pemkab Sumenep adalah pemegang saham terbesar PT WUS, nilainya 75 persen. Kemudian PD Sumekar 0,45 persen, Agus Suryawan 0,05 persen,  dan PT MMI 24 persen.

Berkenaan dengan PI migas tersebut, pembagiannya memang 10 persen. Akan tetapi, dana tersebut masih dibagi menjadi tiga, 5 persen untuk pemilik modal,  2,5 persen untuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan sisanya baru masuk ke PT WUS.

Selain dari mengelola pendapatan dari PI, PT WUS juga memiliki usaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), baik yang skala besar maupun kecil. Keberadaan SPBU itu tersebar di 5 lokasi, di antaranya; Kecamatan Batuan, Lenteng, Batang-Batang, Nonggunong, dan wilayah Pamekasan.

“50 persen sebagai keuntungan yang ditaruh di perusahaan. Kemudian 50 persen sisanya dibagikan kepada para pemegang saham,” paparnya.

Menurut dia, penyusutan dana PI tersebut dirasa sangat wajar. Sebab, migas merupakan barang yang pasti habis apabila dibor terus menerus. Bahkan, saat menandatangani kontrak PI dengan Medco itu diprediksi habis tahun 2023 lalu. Sesuai kontraknya, akan habis di tahun 2027 nanti.

“Gas di dalam sumur itu terus menipis. jadi di tahun 2024 ini kami paling akan mendapatkan dana PI hanya sebesar Rp50 juta. Jika segitu, jelas tidak mampu menutupi biaya operasional,” pungkasnya. (ara/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *