Penurunan TGM di Pamekasan Menuai Sorotan, Praktisi Literasi: Butuh Pengoptimalan Program

News142 views

KABAR MADURA | Menurunnya peringkat tingkat gemar membaca (TGM) di Pamekasan sangat disayangkan oleh para pegiat literasi. Diketahui, pada 2023 Pamekasan berada di peringkat 30 se-Jawa Timur. Sementara pada tahun sebelumnya berada di peringkat 21. 

Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pamekasan Hendra Purnomo mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan perlu meningkatkan program penguatan literasi yang harus dilakukan. Secara umum, program-program yang sudah dirancang dalam penguatan literasi sudah cukup. Hanya saja, dalam realisasinya kurang maksimal dan bahkan dianggap berjalan di tempat. Sehingga, minim progres. 

Hendra menuturkan, diperlukan dukungan dan kerja sama dari semua stakeholder yang ada, seperti penguatan literasi di desa melalui perpustakaan desa. Seandainya ada atensi khusus dari pemerintah terkait diwajibkannya keberadaan perpustakaan desa, maka akan ada  pemerataan kegiatan literasi.

Selama ini, menurutnya, Pamekasan kekurangan penggerak. Sehingga, dengan adanya gerakan-gerakan semacam itu bisa mendorong kegiatan literasi meningkat, baik kegiatan membaca ataupun menulis.

“Bisa juga di sekolah, yang harus menyediakan jam khusus bagi siswanya untuk berkunjung ke perpustakaan, tentu harus dilengkapi dengan bacaan yang memadai. Selama ini, sebagian sekolah ada yang isi perpustakaannya tentang buku paket saja,” jelasnya, Rabu (24/1/2024). 

JJS Kabar Madura

Sorotan lain juga datang dari Ketua Compok Literasi M. Arinal Haqil Ghifari. Dia menegaskan, penurunan peringkat itu menjadi peringatan dan evaluasi tersendiri. Menurutnya, dalam meningkatkan penguatan literasi diperlukan pelibatan komunitas literasi non pemerintahan secara optimal. 

Sejauh ini, kata Ari, kolaborasi dengan komunitas hanya sebatas normatif saja tanpa dilibatkan dalam proses perencanaan. 

“Sehingga kami yang belum tahu secara luas hanya mampu bergerak dalam ruang lingkup kecil. Jadi kolaborasinya harus ditingkatkan lagi,” jelasnya. 

Ari menambahkan, program penguatan literasi yang sudah dirancang oleh pemkab setempat, seperti perpustakaan keliling, gerakan satu guru satu buku, dan lainnya, harus memiliki dampak yang cukup signifikan. Artinya, karya yang dihasilkan tidak hanya sebatas benda mati saja.  

“Ikhtiar itu sudah bagus, tapi yang perlu menjadi catatan, buku atau karya yang dihasilkan tiak hanya menjadi benda saja. Tapi harus menjadi kata kerja, bagaimana ia punya interaksi dengan pembaca. Sehingga bisa menarik perhatian masyarakat,” papar Ari.

Sebelumnya, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pamekasan Qusyairi mengatakan, keberadaan perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa, serta perpustakaan keliling selama ini tidak optimal.  Sehingga berpengaruh terhadap penguatan literasi.

“Selain itu, karena adanya opsi perbaikan nilai. Kabupaten lain banyak yang melakukan perbaikan nilai di indikatornya. Sehingga data yang disajikan bisa diotak-atik. Kami tidak melakukan opsi perubahan itu, jadi nilai yang ada sesuai dengan fakta di lapangan,” jelasnya, Senin (22/1/2023).  

Untuk diketahui, terdapat lima indikator yang menjadi penilaian TGM, yakni frekuensi membaca, jumlah bahan bacaan, durasi membaca, frekuensi akses internet, dan durasi akses internet.

Pewarta: Safira Nur Laily

Redaktur: Sule Sulaiman 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar