KABAR MADURA | Seleksi Putra Putri Batik Pamekasan tahun ini kembali tidak akan terealisasi. Padahal, penyeleksian itu sudah vakum sejak pandemi Covid-19 lalu. Noviana Sya’ban, salah satu peserta Putra Putri Batik Pamekasan 2017 sangat menyayangkan atas tidak terealisasinya program tersebut. Sebab, menurutnya, dibutuhkan regenerasi dalam memperkenalkan batik secara luas.
Dewasa ini, kata Noviana, ketertarikan kaula muda untuk mengenal batik lokal cukup minim. Padahal, batik itu menjadi ikon Pamekasan. Terlebih, setelah seleksi ada program lanjutannya, seperti pelatihan membatik, mengenalkan fashion batik, dan lainnya.
Menurutnya, pelatihan semacam itu, perlu dipupuk ke generasi muda Pamekasan, salah satunya melalui seleksi Putra Putri Batik tersebut.
“Setelah seleksi ada program lanjutan biasanya, seperti pelatihan membatik dan kegiatan-kegiatan yang memperkaya akan wawasan soal batik. Jadi, kegiatan seperti itu perlu ditanamkan di kalangan anak muda,” terangnya kepada Kabar Madura, Kamis (1/2/2024).
Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pamekasan Moh. Zahri mengatakan, anggaran yang minim terpaksa membuat seleksi Putra Putri Batik kembali ditangguhkan.
Kata Zahri, tahun ini hanya akan dilakukan penyeleksian Kacong Cebbing. Sebab Kacong Cebbing terpilih nantinya akan berlanjut kepada pemilihan Raka Raki Jawa Timur. Harusnya, tambah Zahri, seleksi Putra Putri Batik itu realisasinya bersamaan dengan seleksi Kacong Cebbing.
“Kami hanya dapat Rp200 juta. Jadi Putra Putri Batik kami tangguhkan dulu. Fokus di Kacong Cebbing karena nanti akan dikirim ke Raka Raki Jawa Timur. Juga mereka nanti sekaligus menjadi promotor terhadap potensi-potensi yang ada di Pamekasan, seperti wisata dan termasuk batik,” ungkapnya.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





