KABAR MADURA | Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghimbau nelayan untuk waspada dalam melaut. Penyebabnya, angin timur yang semakin kencang dapat mengakibatkan membahayakan keselamatan masyarakat pesisir pantai, terutama para nelayan.
Kepala BMKG Sumenep Usman Khalid mengatakan, angin timur diprediksi terjadi hingga Agustus, sehingga semua menjadi perhatian serius bagi masyarakat Sumenep, utamanya para nelayan
“Saya imbau warga, khususnya para nelayan, agar tidak memaksakan diri keluar jika cuaca sedang tidak baik. Angin timuran masih ada,” katanya, Rabu (19/6/2024).
Dia memahami kebutuhan para nelayan yang mengandalkan laut sebagai sumber nafkah. Namun, mengingatkan warga untuk menghindari risiko yang dapat mengancam nyawa juga penting.
” Nyawa lebih penting dari segalanya, makanya perlu berhati-hati ya,” tegasnya.
Imbauan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan para nelayan di Sumenep dalam menghadapi cuaca ekstrem, sehingga keselamatan mereka tetap terjaga.
Biasanya, kata Usman, perahu nelayan untuk memerhatikan kecepatan angin yang bisa mencapai lebih dari 15 knot dengan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Jika sudah melebihi batas itu, dia meminta nelayan untuk tidak melaut lagi.
“Para nelayan terus mengecek perkembangan informasi cuaca,” paparnya.
Kepala Diskan Sumenep Agustiono Sulasno melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Perikanan Tangkap Joni Hariyanto mengatakan, berdasarkan data Diskan Sumenep, terdapat 34.818 nelayan di Sumenep.
“Imbauan terhadap keselamatan kerja bagi para nelayan terus dilakukan,” ucap dia.
Abu Sahna, nelayan asal Bluto, Sumenep, mengakui bahwa terjadi angin kencang saat melaut, sehingga memilih kembali atau pulang. Jika dipaksakan, dikhawatirkan berbahaya bagi keselamatan.
“Saya juga imbau pada semua para nelayan utamanya di Sumenep, angin timuran sangat berbahaya bagi keselamatan, makanya kedepan perlu waspada,” kata pria yang akrab disapa Aank tersebut.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





