Sanggar Seni Makan Ati Bawakan Seni Macapat dengan Ragam Inovasi

Berita, News231 views

KABAR MADURA | Alunan musik tradisional dimainkan dengan apik oleh  komunitas Sanggar Seni Makan Ati, Senin (2/12/2024). Tidak hanya soal bunyi-bunyian yang indah, tapi di dalamnya juga mengandung ragam budaya yang sangat kental dengan khas Kabupaten Gerbang Salam.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Performa pegiat seni yang tergabung dalam komunitas Makan Ati itu bukan hanya sebatas performa biasa. Namun, mereka berusaha menjaga budaya lokal tetap lestari dan terjaga melalui mahakarya keseniannya. Satu di antara sekian karya yang diciptakan adalah macapat atau mamacah, sebuah tembang yang mengisahkan tentang sesuatu, baik keresahan, permohonan kepada yang kuasa, atau cerita-cerita lain yang syarat akan makna.

Anggota Makan Ati Eko Septiawan mengatakan, dalam membawakan seni  macapat, pihaknya membuat inovasi yang lebih bervariasi. Artinya, tidak hanya menembangkan sebuah syair, namun juga ada komposisi musik yang dimainkan, tari yang dilakonkan, dan inovasi lainnya.

“Kami mengkomposisikan ulang, tanpa harus menghilangkan apa yang memang sudah menjadi pakemnya,” ungkap Eko, yang juga menjadi Wakil Ketua Sanggar Seni Makan Ati itu.

Menurutnya, dewasa ini, budaya lokal hampir punah dan bahkan memang sudah ada yang punah. Oleh karena itu, dalam setiap performanya, selalu diselipkan budaya khas Pamekasan, seperti ronjangan (permainan tradisional Pamekasan), denggek (kehidupan tentang nelayan), dan rokat pandabah. Pengambilan tema-tema itu sebagai upaya dalam melestarikan budaya yang ada di Bumi Ratu Pamellingan.

Eko menegaskan, sanggar yang juga fokus pada seni Karawitan itu sudah melalang buana membawakan ciri khas Pamekasan melalui karya yang dipentaskan, mulai dari tingkat regional hingga nasional.

“Kebetulan, tanggal 4 ini kami perform di Jatim Art Forum di Gresik. Yang kami bawakan mengenai denggek,” ungkapnya. (nur/zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *