KABAR MADURA | Penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menyerang ternak sapi. Di Pamekasan, terdapat ratusan sapi yang ditengarai terjangkit PMK. Indikasinya, sapi-sapi tersebut bergejala klinis seperti PMK. Salah satunya, mulut dan kuku luka, tidak nafsu makan, terdapat busa, dan demam.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Indah Kurnia Sulistiorini mengatakan, dari ratusan sapi yang sakit tersebut, terdapat belasan sapi yang mati. Namun, kematiannya tersebut tidak sepenuhnya dikarenakan PMK. Terdapat faktor eksternal lain yang juga menyebabkan kematian pada sapi.
“Terdapat 400-an ekor yang terdata sakit. Rata-rata memang bergejala klinis seperti PMK. Tapi yang sembuh banyak juga. Sementara yang mati sekitar 19 ekor, dan yang dipotong paksa terdapat belasan juga,” terangnya, Minggu (5/1/2025).
Dia mengungkapkan, sapi yang mati tersebut memang tidak sepenuhnya disebabkan oleh PMK. Alasannya, tingkat kematian akibat virus tersebut tidak terlalu tinggi. Menurutnya, kematian sejumlah sapi itu dikarenakan pemenuhan gizi kurang. Sehingga, peternak diimbau untuk selalu menjaga kestabilan pakan dan kandang, seperti rutin menyemprotkan disinfektan.
“Faktor kematian juga dikarenakan pemberian pakan rumput yang baru tumbuh langsung diberikan ke ternak tanpa dilayukan. Sehingga menyebabkan kembung dan bahkan keracunan,” jelasnya.
Pihaknya tidak menampik bahwa penyakit PMK kembali aktif. Tidak hanya di Pamekasan, namun juga secara nasional. Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat segera melapor apabila ternaknya diketahui sakit.
“Masyarakat tidak perlu panik. Karena PMK yang sekarang ini bukan wabah seperti dulu. Kita harus bisa mencegah dan waspada,” tutupnya kepada Kabar Madura. (nur/waw)





