KABAR MADURA | Sejumlah warga mengeluhkan pelayanan di Samsat Sumenep yang dianggap tidak profesional dan penuh dengan pungutan liar atau pungli. Keluhan itu ramai di ulasan Google Maps Samsat Sumenep, banyak warga yang mengeluh adanya biaya tambahan tidak resmi serta perlakuan diskriminatif pegawai Samsat Sumenep dalam melayani masyarakat.
Seorang pemilik akun bernama Arman Chamar menulis bahwa dia dimintai biaya tambahan sebesar Rp50.000 saat mengurus pajak kendaraannya. Dia meminta agar oknum di loket 1 segera ditindak.
Keluhan serupa juga datang dari pemilik akun Nurul Istighfarah. Dia menyatakan bahwa dirinya harus membayar pajak sebesar Rp250.000, padahal jumlah yang tertera di STNK hanya Rp215.500.
“Makan uang haram ya untuk anak istri bapak?” tulis Nurul dalam ulasannya.
Selain itu, ada yang menyoroti adanya diskriminasi dalam pelayanan di Samsat Sumenep. Salah satu yang memberikan ulasan di Google Maps mengeluhkan bahwa orang-orang yang memiliki kenalan di dalam kantor didahulukan, sementara dia harus menunggu hampir satu jam meski sudah membayar seperti pengunjung lainnya.
Tidak hanya itu, biaya yang tidak wajar juga ditemukan dalam proses cek fisik kendaraan. Pemilik akun Jamalu Ya mengungkapkan bahwa dia harus membayar Rp50.000 untuk cek fisik dan Rp370.000 untuk cek berkas di bagian BPKB.
“Gila kan?,” tulisnya menunjukkan ketidakpuasan atas biaya yang dinilai berlebihan.

Sementara itu, Junaidi Khab mengkritik sikap petugas Samsat Sumenep yang terkesan tidak serius dalam bekerja.
“Pelayanan kurang memuaskan, bergurau, ada juga yang buru-buru tidak memperhatikan konsumen,” katanya.
Dia juga menyoroti keberadaan tukang parkir liar di area Samsat Sumenep yang semakin memperburuk kenyamanan masyarakat.
Menanggapi hal itu, penjaga Loket 1 Samsat Sumenep Rio menyampaikan, mengenai kenaikan itu lantaran adanya penerapan tilang elektronik di Sumenep.
“Maka yang mengurus perpanjangan lima tahunan itu harus orangnya. Sama juga terkait dengan perbedaan harga itu mestinya orangnya sendiri, tapi karena mereka maksa maka kami bantu,” dalihnya saat dikonfirmasi Kabar Madura, Senin (3/3/2025). (ara/zul)





