KABAR MADURA | Dalam beberapa hari terakhir, daerah Kota Sumenep dilanda banjir. Beberapa daerah yang mengalami darurat banjir di pusat kota seperti Jalan Trunojoyo, kawasan Museum, Taman Bunga, dan Jalan Pabian.
Banjir juga merendam wilayah penyangga, yang sebelumnya aman dari banjir. Wilayah itu seperti Kebonagung, Batuan, Babbalan, hingga Patean. Hotel Myze dan Baghraf Health Clinic (BHC) diduga kuat menjadi salah satu pemicu lambatnya banjir itu surut.
Hotel Myze dibangun di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, di atas kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air. Sementara BHC yang berada di Desa Babalan, Kecamatan Batuan, berdiri di atas lahan pertanian aktif dan sempadan sungai, yang seharusnya dilindungi dari alih fungsi lahan.
Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, genangan air di lingkungannya kian sulit surut. Bahkan, hingga tiga hari setelah hujan deras, sisa genangan masih ada.
“Tidak menuduh dua bangunan itu penyebabnya, tapi dulu paling lama sehari sudah surut. Sekarang bisa dua hari lebih airnya masih tergenang. Kami khawatir ini karena aliran air tidak lagi punya jalur resapan,” ujarnya, Kamis (15/5/2025).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Arif Susanto secara terbuka mengakui bahwa Hotel Myze memang berdiri di atas lahan yang masuk kawasan resapan.
“Mulai dari Hotel Myze ke timur sampai ke perumahan, itu lahan resapan air semua memang,” kata Arif.
Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep Chainur Rasyid masih enggan memberikan banyak komentar ketika dimintai tanggapan terkait berdirinya BHC di atas lahan pertanian dan sempadan sungai.
“Kami masih perlu melakukan pengecekan lebih lanjut terkait status lahan tersebut,” ujarnya singkat. (ara/zul)





