KABAR MADURA | Senat Akademik Universitas Islam Negeri Madura (UIN Madura) menggelar sidang untuk meminta pertimbangan dan masukan terhadap sebuah naskah akademik yang mengakar pada budaya lokal Madura.
Bertempat di Ruang Sidang Senat UIN Madura, lantai 3, Kamis (14/8/2025, para anggota senat yang terdiri dari unsur pimpinan, para guru besar,membahas naskah yang berjudul “Falsafah Pengembangan Keilmuan: Asta Helix Heutagogi Taneyan Lanjhang”.
Gagasan ini diajukan seiring dengan transformasi kampus dari IAIN menjadi UIN, yang menuntut adanya identitas keilmuan yang kuat dan berakar. Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, dalam sambutannya memperkenalkan slogan baru kampus: “Kampus Taneyan Lanjhang Pengembangan Ilmu Pengetahuan Islam Integratif”.
Slogan tersebut didasarkan pada konsep Asta Helix Heutagogi, yang dianalogikan sebagai miniatur kosmos Taneyan Lanjhang—konsep halaman rumah panjang dalam budaya Madura—dengan delapan unsur intinya.
Delapan unsur itu, menurut naskah akademik, mencerminkan sebuah relasi yang saling melengkapi. Pilar-pilar tersebut meliputi integrasi antara ilmu pengetahuan dan kesejahteraan ekonomi, kedaulatan sumber daya alam dan kemajuan teknologi, spiritualitas mendalam dan kelestarian budaya, serta terjaganya lingkungan dan tegaknya norma aturan.
Konsep Taneyan Lanjhang, yang secara harfiah berarti halaman rumah panjang, diangkat sebagai simbol sentral dalam falsafah ini. Dalam budaya Madura, halaman ini adalah ruang komunal yang berfungsi sebagai pusat interaksi, kolaborasi, dan sinergi antar-anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan merujuk pada konsep ini, UIN Madura berupaya menempatkan dirinya sebagai pusat kolaborasi yang relevan dengan konteks sosial, ekonomi, dan budaya Madura.
Penerapan konsep Asta Helix juga menyinggung pendekatan Heutagogi, sebuah metode pembelajaran yang berpusat pada otonomi pembelajar. Ini mengisyaratkan adanya pergeseran paradigma pendidikan di UIN Madura, dari model tradisional menuju model yang lebih mendorong inisiatif, kreativitas, dan kemandirian mahasiswa dalam proses belajar.
Para peserta sidang, yang terdiri dari unsur pimpinan, guru besar, dan dosen, menyambut baik gagasan ini. Mereka melihat adanya “common ground” dengan semangat kolaborasi yang diusung oleh falsafah tersebut. Namun, keberhasilan dari gagasan ini akan sangat bergantung pada kemampuan UIN Madura untuk mengubah naskah akademik yang teoretis menjadi praktik yang nyata dan terukur.
Langkah ini akan menjadi ujian bagi institusi untuk membuktikan bahwa identitas baru mereka tidak hanya sekadar label, melainkan panduan operasional yang mampu membawa perubahan signifikan bagi pengembangan keilmuan dan masyarakat.
Senat, melalui forum ini, memposisikan diri sebagai pemberi pertimbangan dan pagi ini Senat Akademik Menyetujui dan Merekomendasikan untuk di lanjutkan menjadi naskah akademik Falsafah Pengembangan Keilmuan UIN Madura.
Mereka meminta masukan dari para ahli dan anggota untuk memastikan bahwa rumusan naskah akademik ini kokoh, relevan, dan dapat diimplementasikan dengan baik. Ini adalah langkah yang strategis untuk memastikan legitimasi dan keberlanjutan falsafah keilmuan baru UIN Madura. (rul/zul)






