KABAR MADURA | Penyakit strok perlu menjadi perhatian serius. Selama ini, banyak yang mengira strok hanya menyerang lansia atau mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Padahal, anak muda juga bisa mengalaminya.
Strok umumnya disebabkan oleh sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Gejalanya pun beragam, mulai dari kelemahan mendadak pada separuh tubuh, gangguan keseimbangan, penglihatan terganggu, hingga kejang disertai muntah hebat.
Dokter Spesialis Saraf RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan, dr. Fairuz, menjelaskan, mayoritas penderita strok memang berusia 55 tahun ke atas, karena di usia itu pembuluh darah otak mulai mengalami kekakuan. Namun meskipun demikian, dia menyebut bahwa strok juga bisa menyerang kalangan muda akibat pola hidup yang tidak sehat.
“Penyebabnya, karena pola hidup yang tidak sehat, seperti rokok, begadang, stres, dan pola hidup tidak seimbang lainnya,” ujarnya, Jumat (24/8/2025).
Menurutnya, gejala strok pada anak muda dan lansia tidak jauh berbeda. Namun, dampaknya pada generasi muda lebih merugikan karena terjadi di usia produktif.
“Penderita strok antara anak muda dengan lansia, gejalanya sama. Tapi konsekuensi sosialnya lebih merugikan ke anak muda, karena stoknya terjadi di usia produktif,” ungkapnya.
dr. Fairuz menambahkan, strok biasanya muncul secara tiba-tiba. Namun, ada tanda-tanda awal yang bisa dikenali, seperti senyum tidak simetris, bicara pelo, kelemahan pada separuh anggota tubuh, rasa kebas, penglihatan rabun, hingga sakit kepala hebat. Jika gejala itu muncul, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit.
“Apabila ditemukan gejala seperti itu, harus segera dibawa ke fasilitas dalam kurun waktu di bawah tiga jam. Apabila sampai di atas tiga jam, risiko strok bisa lebih fatal, seperti timbul kecacatan,” terangnya.
Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa tekanan darah tinggi dan diabetes juga menjadi faktor risiko. Karena itu, konsumsi gula, garam, dan minyak perlu dibatasi.
“Faktor risiko strok ini bisa juga karena darah tinggi dan kencing manis. Jadi konsumsi gula, garam, dan minyaknya harus dikurangi. Karena sekali terkena strok, berpotensi ada strok kedua, ketiga, dan seterusnya,” tukasnya. (nur/zul)





