KABAR MADURA | Kasus kematian bayi baru lahir di Pamekasan menjadi perhatian serius dan perlu mendapat atensi bersama. Pasalnya, kematian pada bayi baru lahir cukup rentan terjadi dengan berbagai faktor penyebab.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, hingga Maret 2025 tercatat 12 kasus kematian bayi dari 2.089 persalinan. Pada 2024 jumlahnya mencapai 67 kasus dari 13.093 persalinan, sedangkan pada 2023 ada 35 kasus dari sekitar 13 ribu persalinan.
Spesialis Dokter Anak RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan, dr. Novel Widya Saputra, menjelaskan, kematian bayi baru lahir dipengaruhi oleh berbagai faktor.
“Banyak hal yang menyebabkan bayi baru lahir itu tidak sehat. Seperti adanya kelainan. Kalau ada kelainan seperti itu harapan hidupnya lebih kecil dari bayi yang sehat,” jelasnya, Kamis (18/9/2025).
Dia memaparkan, penyebab kematian bayi bisa berasal dari prematuritas, berat badan lahir rendah, gangguan pernapasan, hingga kelainan bawaan seperti kelainan jantung. Faktor kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan juga berperan besar.
“Ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit bawaan, akan mempengaruhi kondisi nutrisi anak yang dikandungnya,” ungkapnya.
dr. Novel menekankan pentingnya pemantauan kondisi bayi baru lahir, termasuk suhu tubuh. Bayi yang kedinginan, kata dia, berisiko mengalami sesak napas. Upaya pencegahan juga bisa dimulai sejak sebelum kehamilan dengan mempersiapkan nutrisi ibu, misalnya dengan rutin mengonsumsi vitamin.
Selain itu, perawatan bayi baru lahir juga harus diperhatikan. Asupan gizi yang cukup, kebersihan lingkungan, dan pola asuh yang tepat akan membantu menekan risiko kematian.
“Pemberian makan pada bayi penting. Sebelum enam bulan, jangan langsung diberikan makanan, tapi fokus ke ASI. Kualitas ASI juga penting,” tutupnya. (nur/zul)





