Diskusi Sastra, Ayu Utami Bongkar Hubungan Sastra, Spiritualitas, dan Demokrasi

Ragam75 views

KABAR MADURA | Suasana Selasar Budaya Al-Kaustar, Lawangan Daya, Minggu (28/9/2025) malam, tampak hangat dengan ruang terbuka diskusi sastra. Berbagai macam perspektif tentang kesusastraan menjadi perbincangan yang sangat menarik, utamanya terkait pembahasan sastra, spiritualitas, dan demokrasi. Ruang diskusi yang menghadirkan penulis kenamaan Ayu Utami itu tidak hanya sebatas forum intelektual, namun juga sebagai ruang berbagi gagasan tentang sastra. 

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Ayu Utami menilai, sastra, spiritualitas dan demokrasi memiliki hubungan yang cukup fundamental. Pasalnya, masyarakat Indonesia memiliki spiritualitas yang cukup kental. Begitupun dengan sistem demokrasi yang cukup lekat dengan perkembangan sejarah Indonesia. Menurutnya, apabila spiritualitas tidak dipelihara dengan baik akan berpotensi menjadi buruk, seperti adanya sifat religius yang dogmatis. 

Baca Juga:  Diskopumdag Bangkalan Siapkan Subsidi Bunga Nol Persen untuk Pinjaman UMKM

“Spiritual itu penting untuk dipelihara. Caranya bermacam-macam, dan sastra itu bisa memelihara spiritualitas,” tuturnya di acara Diskusi Sastra Sivitas Kotheka, Minggu (28/9/2025).

Sementara demokrasi, kata penulis Larung itu, bukan sesuatu yang statis. Sementara karya sastra tidak cukup untuk membangun demokrasi. Kendati demikian, sastra mampu mengangkat kejujuran atau isu-isu yang susah diungkapkan ke publik. Seperti peristiwa-peristiwa kekerasan seksual atau kejadian tidak adil lainnya. 

JJS Kabar Madura

 “Ketika sastra harus ikut berjuang, berati situasi demokrasinya sudah buruk sekali. Tapi perlu diingat, sastra ini wilayahnya luas sekali,” tambah penulis Bilangan Fu tersebut.

Baca Juga:  Pemkab Sumenep Genjot PAD dari Wisata hingga Pajak Digital, Bupati: Demi Percepatan Pembangunan

Penulis kelahiran 1968 itu mengaku, dalam beberapa karyanya, tidak pernah lepas dari kegelisahan yang dialaminya, seperti di buku Saman, yang merupakan reaksi dari terlampau dominannya wacana Orde Baru. 

Sementara di buku Bilangan Fu, dia melihat tantangan lain pada dekade pertama reformasi. Kalau itu, Ayu Utami melihat Indonesia dalam ancaman yang berkeping-keping, mulai dari Pancasila yang diabaikan, sentimen kedaerahan yang cukup menguat, terorisme dan radikalisme agama meningkat, begitupun dengan ujaran kebencian. (zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *